[ CERITA INI MENGANDUNG KATA KATA KASAR. JADI TETAP BIJAKSANA]
"Aku mencintaimu lebih dari yang engkau tahu. Aku menyayangimu lebih dari yang terlihat.
Aku, pernah bermimpi, selamanya akan tetap bersamamu. Tapi, takdir menyatakan tidak. Restu, tidak berpihak pada kita." Ujar Agust di dekapan Chika.
******
"Cukup mah, mama benar-benar tidak mau Chika hidup bahagia." ujar Chika dengan air mata yang membasahi pipinya .
"DIAM, KAMU." bentak Farah
"Mama, cuma gak mau, kamu menikah sama dia. Nanti, bagaimana dia membutuhi kehidupan sehari-hari mu? Bahkan dia aja tidak punya pekerjaan, dia anak broken home, Chika." Cetus Farah dan hampir menampar pipi kanan Chika. Untung saja Leo sigap menahannya.
" Dan satu lagi, dia itu penyakitan, paham kamu?!"
Ucapan itu, sungguh menohok hati Agust.
"Jangan bawa tentang orangtua saya, Tante." ujar Agust dengan emosi yang memuncak.
"Aku tidak peduli. Pokoknya, pilihan mama tetap Samuel. Dan, itu tidak bisa diganggu gugat."
"Mah, jangan gitu dong. Mereka, udah lama pacaran."sahut Leo ayah Chika.
"Tutup, mulutmu Leo." cetus Farah.
******
"Apa, aku disebut pelangi? yang hanya datang untuk sementara.?"
"memberikan warna, tapi sekejap?" tanya Chika beruntun.
"Jika iya, aku minta maaf "
Tidak ada jawaban dari laki-laki yang duduk disampingnya itu.
******
"Gue harap, lo bisa jagain Chika. Gue, titip dia sama lo Sam." ujar Agust dengan suara nya yang semakin tidak terdengar, dengan mata yang mulai tertutup .
MAU TAU LANJUTAN CERITANYA???
LANGSUNG AJA CEKIDOT
WARNING ⚠️⚠️⚠️
Jika, ada kesamaan tokoh atau jalur cerita dengan yang lain. Aku minta maaf. Tapi, cerita ini dari imajinasi ku sendiri.
Jangan lupa follow,vote and coment
Happy Reading (✿ ♡‿♡)
#mengandung bawang
#Bahagia
#Melawan restu
"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya.
"Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah.
"Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya.
"Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita.
"kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku.
"kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya.
"Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar.
Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain.
"Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu.
Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi.
Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun.
"Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa.
• Hasil karya sendiri
• bahasa baku dan non baku
• maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita
*** Happy_Reading ***