AMARA
  • WpView
    Reads 84
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 10, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
⚠Belum direvisi⚠ "A--ku hamil."lirih Amara tetapi masih bisa terdengar oleh Arkan. "Lo beneran hamil?siapa tau dia bukan anak gue yekan?."jawab Arkan sembari membuang puntung rokoknya. "Ini anak kamu Arkan kamu harus tanggung jawab." "Kalau gue gak mau gimana?lagian gue gak sudi punya anak dari rahim lo."sarkas Arkan ia mulai memojokan Amara sampai punggung Amara membentur dinding. "Gugurin sendiri atau mau digugurin sama gue?."ucapnya terdengar serak tepat ditelinga Amara membuat bulu kunduknya berdiri. "Gak aku gak mau gugurin anak yang tak berdosa ini."selepasnya Arkan pergi meninggalkan Amara sendirian dibelakang sekolah setelah memukul perut Amara,ia hanya meringgris saat pukulan itu datang menghangtam perutnya. Bagaimana selanjutnya apakah Arkan akan bertanggung jawab atas perbuatannya atau? Kalau penasaran baca aja! Tapi jangan lupa untuk meninggalkan jejak.
All Rights Reserved
#36
terpuruk
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 𝙄𝙧𝙧𝙚𝙥𝙡𝙖𝙘𝙚𝙖𝙗𝙡𝙚 - Sehun x Yoona ✔️
  • Bukan ZONK!
  • Hug Me (Mom Dad)
  • My Baby Boy [TAMAT]
  • Cintai Aku Sebentar Saja
  • CEO Sombong || End (Remake)
  • Aku Tahu Kamu Terluka   (Jjk >< Iny) ✔
  • Our Mistake

‼️F I K S I‼️ 𝙄𝙧𝙧𝙚𝙥𝙡𝙖𝙘𝙚𝙖𝙗𝙡𝙚 (adj) : tak tergantikan 🍀🍀🍀🍀🍀 "Buat Kakak," ucap seorang wanita muda mengeluarkan sebuah amplop putih yang tercantum nama sebuah rumah sakit. "Buat aku? Rumah sakit? Kamu sakit?" tanyanya yang dibalas gelengan kepala oleh sang kekasih. Angkasa mengernyitkan keningnya, tangannya meraih amplop tersebut dan membukanya. Seketika wajahnya berubah pias seolah darah direnggut paksa dari wajahnya hingga membuat pucat sempurna seiring iris kembar legamnya menelusuri deretan kata yang tertera diatas kertas putih tersebut. "Aku hamil, Kak. Kata dokter anak kembar dan umurnya sudah 3 minggu." Seiring kalimat itu terucap, nadanya merendah hampir tak terdengar kalau Angkasa tidak memberi fokus padanya. "Gimana bisa? Senja, kita baru ngelakuin itu sekali. Enggak mungkin langsung jadi. Senja, bilang sama aku. Ini bukan anak aku kan?!" "Bukan anak kamu? Kakak nuduh aku ngelakuin itu sama orang lain, iya?" "Gak mungkin. Keluargaku gak punya keturunan kembar. Gak mungkin itu anak aku, Senja! Bilang sama aku, siapa yang udah menghamili kamu?" Setetes air terjun bebas dari pelupuk mata. Hatinya terluka begitu dalam sebab kalimat yang terucap bagaikan belati yang menyayat setiap lapisan hatinya. Senja sama sekali tidak pernah menyangka jika kalimat itu terucap dari bibir pria yang kerap kali menyatakan besarnya cinta yang dimiliki untuknya. Lantas apa sekarang? Dimana rasa cinta yang selalu digaungkan di telinganya itu? Bahkan Senja mendadak kehabisan kata. Senja seperti tak mengenal sosok didepannya. Asing. "Gugurin. Kalau kamu masih cinta sama aku, gugurin. Aku bakalan tetap menerima kamu asal kamu gugurin kandungan kamu." Kalimat terakhir yang Senja dengar sebelum kaki jenjangnya membawa tubuhnya melangkah pergi dari hadapan pria yang dicintainya itu tanpa ada niatan menoleh sedikitpun ke belakang meninggalkan Angkasa yang masih diam seribu bahasa tanpa berniat mengejarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines