Story cover for BEHIND US : FABELLA by kibalqis
BEHIND US : FABELLA
  • WpView
    LECTURAS 2
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 1
  • WpView
    LECTURAS 2
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 1
Continúa, Has publicado ago 27, 2021
Sebelum baca, lebih baik follow authornya dulu deh:>

Dilarang keras plagiat. Ini murni karya aku sendiri. Maaf bila ada kesamaan nama ataupun latar.

***

"Hari ini ulangan biologi. Dah belajar belum?" tanya Bella dengan pandangan yang masih fokus menatap bukunya. Sesekali ia memejamkan matanya untuk mengetes hafalannya.

"Ulangan ya?" Daffa kembali menggaruk tengkuknya.

"Bodo amatlah. Gue dah jago soal reproduksi soalnya," ujarnya yang dibalas pelototan tajam dari Bella.

"Kan materinya gak tentang reproduksi doang Daf," kata Bella dengan penuh penekanan.

"Iyaa sih, tapi kan kebanyakan soalnya tentang itu. Lo ngeraguin gue?"
Todos los derechos reservados
Regístrate para añadir BEHIND US : FABELLA a tu biblioteca y recibir actualizaciones
O
#234cuteboy
Pautas de Contenido
Quizás también te guste
Stay (Away) de hazelaice
64 partes Concluida
⚠️Cerita Mengandung Bawang⚠️ "Lo maunya apa sih?!" Prilly mengeluarkan seringai menggodanya. Tangannya terulur menuju kerah seragam Ali, ia menarik kerah Ali hingga tubuh Ali terhempas mendekat ke arahnya. Lantas ia berbisik dengan suara seraknya, "Lo tanya mau gue? Mau gue itu cuma hati lo." "Murahan," ujar Ali sarkastik sambil menarik tubuhnya menjauh. Prilly masih mempertahankan seringaiannya. "Gue gak bakal semurahan ini kalo lo gak jual mahal sama gue," balas Prilly berusaha memepetkan tubuhnya kepada Ali. Hal itu membuat Ali berdengus jijik, enggan luluh dengan sikap Prilly. "Cih, dasar jalang!" Prilly menatap tepat di bola mata Ali, ia memonyongkan bibirnya dan memajukan dirinya seperti ingin mencium Ali. Tetapi, hal itu tentu hanya sebuah gertakan saja. "Gue gak bakal jadi jalang, kalo lo gak nolak cinta gue!" Prilly berteriak kencang tanpa memikirkan harga dirinya lagi. "Tapi, gue udah punya pacar!" Ali berdesis sembari menatap tajam Prilly. "Putusin pacar lo, terus jadian sama gue. Gampang 'kan?" Ucapan enteng Prilly membuat emosi Ali tersulut. "Lo gak cinta sama gue tapi lo terobsesi buat milikin gue. Dan itu buat lo gila!" Prilly berdecih, "Iya. Gue gila. Dan itu semua, karena lo!" Dua tahun bukanlah waktu yang singkat bagi Prilly untuk mengejar Ali dengan cara-cara murahan, dan hasilnya ia selalu ditolak mentah-mentah oleh Ali. Ini semua berawal dari Prilly yang sering mengumbar gombalan kepada laki-laki di kelasnya dan Ali adalah salah satunya, dan itu semua berakhir pada perasaan semu yang nyata. Awalnya Ali tidak pernah menganggap serius gombalan Prilly, tetapi Prilly mulai melakukan tingkah konyol, seperti saat Prilly mengumumkan kepada seluruh teman sekelasnya bahwa mereka resmi berpacaran. Hal itu membuat Ali muak dan membenci Prilly. Oleh karena tingkah murahan Prilly, Ali tidak ingin berinteraksi selayaknya teman sekelas kepada Prilly. Seringkali Ali menyuruh Prilly menjauh, namun selalu dibantah dan Prilly memilih untuk b
Quizás también te guste
Slide 1 of 9
ABIAN HALA cover
Sweet But a Little Psycho (COMPLETED✔) cover
Farel Dan Bella  cover
Different Word (Revisi) cover
SEPA [TRANSMIGRASI BL] END (Proses Revisi)  cover
Stay (Away) cover
Mas Ardan - [ MPREG ] BxB [ BL ] [SELESAI] cover
Seven Crazies [Re-publish] cover
I'm not She (END) cover

ABIAN HALA

60 partes Concluida

Hembusan angin menyapu lembut rambut panjang milik Hala yang ia biarkan tergerai begitu saja. Napasnya tenang namun tidak dengan perih di ulu hatinya yang membuat ia hanya mampu duduk diam sambil memeluk kedua lututnya. Berharap akan ada sebuah pelukan yang datang untuk menghangatkannya. Kisah kelam itu sudah berlalu sekitar setengah tahun yang lalu, tapi seolah kisah itu begitu betah menjadi parasit di dalam kehidupannya. Yang selalu dan terus menerus Hala rasakan ialah mengenai rindu dan rasa ingin bertemu. Rasanya ia belum cukup menikmati waktu yang Tuhan jatahkan untuk mereka bisa saling mencintai dan membersamai. "di agama kita gak ada reinkarnasi, tapi aku terus berdoa supaya ketemunya di mimpi, tapi mimpi pun bukan bagian dari kekuasaan aku ataupun kamu. Jadi kapan kita akan bener-bener ketemu? Malam ini? Besok? Lusa?" Setitik air mata jatuh membuat isakan Hala kembali terdengar. Suara pintu yang terbuka lalu pelukan yang berasal dari belakangnya membuat isakan Hala kian membesar. Pelukan memang, tapi bukan orang ini yang ia harapkan. Karena memang sebenarnya ia tidak akan pernah merasakan pelukan itu lagi.