RELNARA
  • WpView
    Reads 48
  • WpVote
    Votes 20
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 7, 2021
Dia kira hanya dia yang tak bahagia. Dia kira hanya dia yang merasa terluka. Dia kira hanya dia yang merasa tersiksa. Nyatanya masih banyak orang yang lebih menderita. Untuk saat ini dia sadar bahwa dia terlalu egois. ✨✨✨ Seorang siswi yang masih duduk di bangku SMA selalu berusaha untuk terlihat baik-baik saja, walau sebenarnya dia mempunyai luka yang cukup mendalam, dia selalu berusaha untuk menyembunyikannya dari semua orang. Sejak pertemuan pertamanya dengan sosok misterius, awalnya dia hanya merasa biasa saja. Namun, dia tak menyangka jika sosok itu yang akan memperbaiki hidupnya.
All Rights Reserved
#13
bersinar
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • 7 Seconds
  • Let Me Love You Longer
  • Androphobia Love ✔
  • As Time Allows
  • The Dark Side(END)
  • Kanaya Safira_
  • HIDDEN I (The End)
  • BianNa (Fabian & Nara) END

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines