ALEQUA

ALEQUA

  • WpView
    Reads 18,267
  • WpVote
    Votes 2,435
  • WpPart
    Parts 20
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 20, 2022
𝙆𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙗𝙪𝙖𝙝 𝙝𝙖𝙧𝙖𝙥𝙖𝙣, 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙢𝙖𝙩𝙞𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙮𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙢𝙗𝙖𝙞-𝙡𝙖𝙢𝙗𝙖𝙞... Bagaimana rasanya membiarkan jasad insan tercinta perlahan mengurai di atas tanah? Dengan tangis yang sudah menjadi rutinitas, dan darah yang terus mengalir? 𝑨𝒍𝒆𝒒𝒖𝒂 𝑻𝒉𝒆𝒓𝒆𝒔𝒊𝒂... "𝘋𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘪? 𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘵𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘮𝘱𝘢, 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘪? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩?" Nyawa yang masih menyangkut saat ini, adalah bentuk cinta Tuhan yang begitu besar. Kadang pandangan tak harus selalu didongakkan ke arah atas. Lihatlah betapa banyak jiwa kelabu yang meronta-ronta untuk dikembalikan ke muka bumi, namun sayang, dunia bukan lagi jodoh terbaik untuk mereka. "𝙺𝚊𝚖𝚒 𝚑𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚒𝚗𝚐𝚒𝚗 𝚑𝚒𝚍𝚞𝚙." ~ 𝑨𝒍𝒆𝒒𝒖𝒂 ~ • • • Cerita berdasarkan kisah nyata, dari Alex Poerwo... Mengenang mereka para korban yang telah gugur, Gunung Slamet-Januari 1985. 65% nyata & 35% fiksi. Terdapat beberapa perbedaan latar waktu, tempat, dan tokoh dengan kisah nyatanya.
All Rights Reserved
#360
penjajahan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • [Lacrimosa]; Dara-Dara Runtuh
  • Salah Target [Unpublish]
  • LAUTAN DAN DENDAMNYA (TELAH TERBIT)
  • Irreversible : Sebuah Takdir
  • LUCANNE [TAMAT]
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • Letter From Chacha (The End)
  • WEDDING VOWS
  • L'amour à Batam (Hiatus)
  • NAVAREZ -•°

[𝐂𝐨𝐦𝐩𝐥𝐞𝐭𝐞𝐝] ❬ 𝗛𝗶𝗻𝗱𝗶𝗮-𝗕𝗲𝗹𝗮𝗻𝗱𝗮, 𝟭𝟵𝟮𝟳 ❭ Tiap garis hidup itu punya aksara masing-masing yang membikin itu hidup mau hitam atau putih (atau mungkin abu-abu, barangkali) Cakrawala kemanusiaan terlalu meliuk menyucikan insani. Suci yang dibalut kemunafikan. Dan itu manusia. Kelumpuhannya dari kekuatan secara alami bisa terjadi kalau lagi diradang pesakitan. Mari selami kehidupan anak manusia yang lagi mengarungi penghidupan dari bilik kolonialisme yang komersalis, bersama jiwa-jiwa feodal yang punya digdaya dalam singgasana. Mencipta cerita antara kawula dengan tuan-tuannya. Dan dua dara yang lagi hidup disini, punya jalan masing-masing menempuh alur penghidupan. Walau pada akhirnya juga yang mereka temui adalah cuma kebinasaan. ❝Jangan risau, Mama,❞ kata salah seorang dari dua dara itu pada satu kali waktu. ❝Tuhan akan betul-betul lindungi kita. ❞ ❝Sebab ... Tuhan tak pernah tidur.❞ ••• Genre : Historical Fiction Started : July, 2020 End : April 2021 [𝗦𝘁𝗼𝗽 𝗽𝗹𝗮𝗴𝗶𝗮𝗿𝗶𝘀𝗺, 𝗯𝗲 𝗼𝗿𝗶𝗴𝗶𝗻𝗮𝗹] Noted: Cerita ini sedang dalam masa revisi dan pengeditan, termasuk pergantian judul dari An with An A and E menjadi "[Lacrimosa]; Dara-Dara Runtuh."

More details
WpActionLinkContent Guidelines