Ritme Hidup Ayra

Ritme Hidup Ayra

  • WpView
    LECTURAS 30
  • WpVote
    Votos 5
  • WpPart
    Partes 5
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mié, sep 1, 2021
WpInfo
Ficción
Temas Sociales
(Spiritual-Romance) Ayra Humayra Haniyya. Gadis berparas cantik ini harus merasakan peliknya kehidupan di usianya yang ke-18 tahun. Semua penderitaannya berawal dari ketidakpatuhannya kepada kedua orang tua. Ayra ingin menjadi seorang dancer, sedangkan kedua orang tuanya ingin Ayra menjadi seorang guru. Keduanya sangat bertentangan. Ayra yang keras kepala memilih pergi meninggalkan rumah yang tak lagi tentram. Hingga akhirnya Ayra dipertemukan dengan lelaki dewasa bernama Affan Mirza Sharim. Pertemuan tak disangka itu melahirkan banyak kisah yang yang tak disangka pula. Affan yang suci mencintai Ayra yang kotor. Affan bertekad mengubah kehidupan Ayra menjadi lebih baik, menurutnya. Namun, itu bukanlah suatu hal yang mudah bagi Ayra dengan keras kepalanya. "Anda tidak berhak mengatur hidup saya!" "Oh iya? Apa kamu lupa dengan bayaran yang sudah saya berikan? Kamu di bawah kendali saya."
Todos los derechos reservados
#662
wedding
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • Derita Istri Kedua Dosen
  • SHEIRAZ PLAN ✓
  • I love you, Mas Duda
  • Astaghfirullah, Fuckboy Husband! [END]
  • Mahligai Cinta [END]✓
  • Kekasih Halalmu [SUDAH TERBIT]
  • Jodoh Yang Dinanti √
  • Kamulah Takdirku

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido