- ARDANTARA -

- ARDANTARA -

  • WpView
    Reads 203
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureComplete Thu, Sep 2, 2021
"GUE GAK BISA DI DAPETIN DENGAN MUDAH , KECUALI LO SERIUS AKAN HAL ITU ( cinta )" -Ardan Dirgantara. "Dan , lo tuh ibarat langit dan gua ibarat bumi , terus takdir di tengah² nya ... apa mungkin gua harus menaklukan takdir agar bisa menyatukan langit dan bumi tanpah ada penengah ?" -Zevanya Ayulisty. "Terserah , hati lo mungkin beku tapi mata dan sikap lo penuh kehangatan yg selalu gua nikmati , camkan gua candu tentang hal itu" -Nadira Kusumajaya. "Orang eksimo bisa bertahan sampai berpuluhan tahun di kutub menahan rasa dingin , berbanding balik dengan hati gua yg gak selamanya bisa tahan atas sikap lo" -Sabita Dwi Linetta. Ini secuil kisah dari ARDAN DIRGANTARA si kutub berkaki yg berwujud pria tampan di SMA 85 Jakarta Selatan. Juga tiga gadis cantik ZEVANYA AYULISTY , NADIRA KUSUMAJAYA dan SABITA DWI LINETTA mencintai satu pria yg sama yaitu ARDANTARA. Bermula dari perasaan sang sahabat sejak kecil , Zeva harus bersaing dengan Nadira dan Sabita untuk mendapatkan hati Ardan. Tak seindah memperjuangkan cinta pada umum nya , ZEVA , NADIRA dan SABITA mereka punya cara tersendiri untuk memikat hati pangeran nya. Lantas di antara tiga gadis itu , siapakah yg akan menjadi pendamping ARDANTARA nanti nya ? Apakah kau tertarik untuk mencoba cara mereka juga ?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Stupid & sakit
  • 𝑨𝒌𝒖 𝑲𝒂𝒎𝒖 𝑫𝒂𝒏 𝑻𝒂𝒌𝒅𝒊𝒓
  • I'm Not A Villainess
  • ALANAALANKA. [ ON GOING]
  • Hate or care
  • Cewek Judes Vs Cowok Nyebelin END (TELAH TERBIT)
  • From Daffa To Adel [Completed]
  • ERLANGGA
  • Could It Be Love [COMPLETE]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines