We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
SAHABAT KU PENYEMANGAT KU

SAHABAT KU PENYEMANGAT KU

  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 3, 2021
WpInfo
Non-Fiction
Cuaca siang hari sangat panas untuk dirasakan, angin panas berhembus membisikan pada ku cuaca panas sangat tidak aman,apalagi bermain cuaca tidak mendukung disela sela lamunan ku,aku brfikir dengan peristiwa pagi tadi yang terus menerus tersebit di dalam pikiran ku pas pagi itu duduk lah di hadapan ku, sahabatku yang sudah ku anggap sebagai saudara ku sendiri. yang sudah 2 minggu kami tak bertemu. dia terlihat murung "sahabat ku kenapa kau terliat murung sekali pas aku liat? tanya perasaan ku".lalu sahabat ku hanya tertunduk lesu sampai berucap "tak apa, tak ada apa apa tak ada apa apa dengan ku setelah bercakap ia lalu memeluk ku lalu ia membawa pesan yang aku tidak ketahui iya......... nama sahabat ku adalah ABDUL RAHMAN aku biasa memangilnya ABDUL wujud sahabat ku yang sering memperhatikan ku. serta hari ini den tempat ini jadi saksi tentang persahabatan kami ikatan kami sudah merambat 2 minggu yang lalu saya belum betul paham dengan peristiwa hari ini tangan ku masih memegang pesan pemberian dari ABDUL yang masih belum ku bukak matahari akan terbenam dan akan menggelapkan hari ku, tidak seperti biasanyacuman terdapat suatu pemberitahuan adalah hp ku
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Home (Completed) (Repost)
  • Gendut!! Gue cinta sama lo
  • M E M O R Y  (On Going)
  • Setia Di Hati (Selesai)
  • Scutum (Sedang Revisi)
  • WARISAN
  • Cinta Tapi Cinta?
  • Missing { Who Are You}
  • SELENOPHILE

"Siapa barusan? Kok enggak disuruh masuk dulu?" ayah kini mengalihkan fokusnya padaku. "Teman Yah. Tadinya mau turun tapi aku bilang gak usah, gak enak udah malem," kataku lalu berjalan meninggalkan ayah. "Harusnya suruh masuk dulu, biar ayah tahu kamu berteman sama siapa?" katanya lagi. Aku memutar mataku jengah. Lalu berbalik menghadap ayah. Lalu berjalan mendekatinya. Menggelayutkan tanganku di tangan kekar laki-laki paruh baya yang selalu merasa khawatir padaku, seakan-akan aku ini masih gadis kecilnya. Satu hal yang ayah lupa aku kini sudah berusia 26 tahun dan aku sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. "Ayah, dia itu bukan siapa-siapa! Ayah gak usah khawatir kakak udah 24 dan bisa jaga diri," kataku sambil menggiring ayah masuk ke dalam rumah. Kudengar ayah menghela nafasnya, "Kamu itu permata ayah satu-satunya, harus benar-benar ayah jaga, karena ayah tidak akan memaafkan diri ayah sendiri jika sesuatu terjadi sama kamu," katanya. Aku mengelus lengan ayah, "Ayah gak usah khawatir! Kakak gak akan buat ayah kecewa," kataku lalu masuk ke dalam rumah. Ayah kemudian melepaskan lenganku yang menggamit menutup pintu depan dan memastikannya agar terkunci rapat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines