Rinai
  • WpView
    Reads 127
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Dec 30, 2021
Saat orang lain bilang masa sekolah menengah adalah waktu paling menyenangkan. Tapi tidak bagi seorang Cyra Zalika yang harus kehilangan banyak hal saat itu. Kehidupan sekolah menengah yang menjadi impiannya harus berakhir menjadi mimpi buruk saat ia terpaksa harus pindah sekolah dan memulai langkahnya kembali dari awal. Ezra Rafandra adalah sosok yang menopang seorang Cyra saat ia terjatuh, namun Ezra memiliki luka yang sama hancurnya dengan gadis itu, sayangnya Cyra tak pernah tahu soal itu. Cyra tak pernah menyadari luka orang lain sebab lukanya terlalu banyak. Karena manusia ga pernah bisa sendirian di bumi, Cyra beruntung punya sosok penguat di masa masa peliknya. Termasuk geng tahu bulat yang selalu jadi penghibur saat semua terasa memuakkan. Seorang Cyra tak akan pernah tahu rasanya bertahan, jika tanpa mereka semua. Termasuk keluarga yang selalu Cyra banggakan didepan semua orang, kecuali Ezra. "Kenapa si lo suka hujan Ra?" "Karena hujan berhasil meredam suara tangis gua, Ra. Jadi ga perlu lagi gua lari ke toilet nyalain kran cuma untuk nangis" "Kalo gua bilang buat nangis pas lagi sama gua aja gimana? pasti kedengarannya kaya buaya ya?" "Lo emg buaya, tapi bodohnya gua malah makin ga mau jauh dari lo, Ra" Batin Cyra. Ia hanya tersenyum getir saat Ezra bisa-bisanya memberi candaan ditengah hujan saat Cyra memutuskan untuk lebih baik menghilang. ***** "Harus banget ya bun kita pindah rumah?" "Entah, ini semua keputusan papa kamu Ra" "Papa juga ga mau kaya gini Ra, tapi keadaan kita udah berubah" "Boleh ga Kay gua kabur aja dari bumi, pengen ke mars rasanya" Ezra dengan pesan terakhirnya "Kamu harus Bangga, karena tetap bertahan meski hampir tak tertahan"
All Rights Reserved
#429
trustissues
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Stay (Away)
  • LIKE A FOOL
  • Terima kasih Imajinasi [end]
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • ELZEAN [On Going]
  • Devil in Your (ANGGARANTA)
  • hay mantan !!
  • Best Friend (NAVISA)
  • DANADYAKSA

⚠️Cerita Mengandung Bawang⚠️ "Lo maunya apa sih?!" Prilly mengeluarkan seringai menggodanya. Tangannya terulur menuju kerah seragam Ali, ia menarik kerah Ali hingga tubuh Ali terhempas mendekat ke arahnya. Lantas ia berbisik dengan suara seraknya, "Lo tanya mau gue? Mau gue itu cuma hati lo." "Murahan," ujar Ali sarkastik sambil menarik tubuhnya menjauh. Prilly masih mempertahankan seringaiannya. "Gue gak bakal semurahan ini kalo lo gak jual mahal sama gue," balas Prilly berusaha memepetkan tubuhnya kepada Ali. Hal itu membuat Ali berdengus jijik, enggan luluh dengan sikap Prilly. "Cih, dasar jalang!" Prilly menatap tepat di bola mata Ali, ia memonyongkan bibirnya dan memajukan dirinya seperti ingin mencium Ali. Tetapi, hal itu tentu hanya sebuah gertakan saja. "Gue gak bakal jadi jalang, kalo lo gak nolak cinta gue!" Prilly berteriak kencang tanpa memikirkan harga dirinya lagi. "Tapi, gue udah punya pacar!" Ali berdesis sembari menatap tajam Prilly. "Putusin pacar lo, terus jadian sama gue. Gampang 'kan?" Ucapan enteng Prilly membuat emosi Ali tersulut. "Lo gak cinta sama gue tapi lo terobsesi buat milikin gue. Dan itu buat lo gila!" Prilly berdecih, "Iya. Gue gila. Dan itu semua, karena lo!" Dua tahun bukanlah waktu yang singkat bagi Prilly untuk mengejar Ali dengan cara-cara murahan, dan hasilnya ia selalu ditolak mentah-mentah oleh Ali. Ini semua berawal dari Prilly yang sering mengumbar gombalan kepada laki-laki di kelasnya dan Ali adalah salah satunya, dan itu semua berakhir pada perasaan semu yang nyata. Awalnya Ali tidak pernah menganggap serius gombalan Prilly, tetapi Prilly mulai melakukan tingkah konyol, seperti saat Prilly mengumumkan kepada seluruh teman sekelasnya bahwa mereka resmi berpacaran. Hal itu membuat Ali muak dan membenci Prilly. Oleh karena tingkah murahan Prilly, Ali tidak ingin berinteraksi selayaknya teman sekelas kepada Prilly. Seringkali Ali menyuruh Prilly menjauh, namun selalu dibantah dan Prilly memilih untuk b

More details
WpActionLinkContent Guidelines