KINTANI
  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Sep 6, 2021
Tangan kekar pemuda itu mencengkeram kuat lengan seorang gadis hingga ia merintih kesakitan. Menyeret gadis malang penuh luka itu dengan kasar. Dengan degup jantung yang berdetak dengan kencang, nafas yang sudah tidak lagi beraturan, gadis malang itu berteriak meminta tolong kepada semua orang yang melihat dirinya dengan suara paraunya. Namun sepertinya itu hanyalah sebuah tontonan sirkus bagi mereka, tidak ada niat membantu atau bergerak menahan pemuda tersebut untuk tidak melakukan tindakan kasar pada gadis itu lebih jauh lagi. Memang apa yang salah dari gadis itu? Kenapa semua orang begitu tega membiarkan hal ini terjadi padanya? "Ketika Cahaya itu datang, aku ingin sekali menemui ayahku meski hanya sebentar saja." - Kintani Follow my Instagram : @noureladhila Copyright © Noureladhila | 2021 [Plagiat Menjauh]
All Rights Reserved
#953
spiritual
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dark Tales From Deep In The KEBUN DJENGKOL (TAMAT)
  • AKU INDIGO ???
  • The Sacred Jasi | Jasi Michelle
  • Teror sinden (Liburan Telaga Tengah Alas)
  • TAGIHAN PERJANJIAN LAMA - DESA HAWA TIIS || 97L
  • Teror Leak (Selesai✔)
  • KUTUKAN KEDOK PANJI [Complete]
  • Bisikan Hawa
  • susuk
  • bisikan

(BASED ON TRUE EVENT) **** Ini adalah kisahku saat mengikuti perkemahan PMR Regional provinsi. Dimana lokasi yang ditempati merupakan tempat pembantaian terbesar PKI dimasanya. Kisah kelam korban di masa lalu membentuk entitas kengerian ditempat itu. Sosok-sosok yang masih tak terima saat dibantai karena ketidakadilan memenuhi lokasi area bekas Belanda tersebut. Disini mereka menanti. "Kebun Djengkol". **** BRAKKK... Tiba-tiba pintu itu menutup dengan sendirinya. Spontan aku yang kaget langsung berlari menjauhi. Ketika melewati tembok jalan keluar bilik kamar mandi, aku tak sengaja menabrak seseorang. "Cuk!!!" Awalnya pemuda itu sempat marah, namun ekspresinya berubah saat melihat wajahku yang sudah pucat pasi. Aku pun bengong sepersekian detik. Bukan, bukan karena terpesona melihat wajah orang tampan layaknya adegan film-film romantis remaja. Namun aku berusaha menenangkan diri dari sisa ketakutan. Pemuda itu menatapku dengan ekspresi yang susah dimengerti. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya kemudian. "Nggak apa-apa. Maaf nggak sengaja nabrak". "Kenapa? Habis liat hantu ya?" "Ah ituu ..." "Kuntilanak ma setan bocahnya masih ngeliatin kamu tuh." Ucapnya santai. Dadaku kembali berdegup kencang sambil mengumpat lirih. Kini aku ganti memandangnya lekat. Dan pemuda itu membalas reaksiku dengan menyipitkan mata. "Apa?" Tanyanya kemudian. "Kamu bisa liat kan 'mereka' kan?" "Liat apa?" Aku sedikit melangkah mendekatkan diri sembari berbisik "Demit" Pemuda itu sempat terbahak. Lalu tiba-tiba menjulurkan sebelah tangannya. "Aku Aji." ****

More details
WpActionLinkContent Guidelines