Biru dan Lukisan Nara

Biru dan Lukisan Nara

  • WpView
    Membaca 67
  • WpVote
    Vote 8
  • WpPart
    Bab 2
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Kam, Sep 9, 2021
Nara dan mimpi-mimpinya yang telah mati. Nara tak pernah hidup untuk hari esok. Nara yang selalu ingin mempunyai pesawat untuk pergi mengunjungi Tuhan. Nara suka melukis tentang rasa sakitnya yang tak pernah ia suarakan. Nara yang berusaha untuk tetap waras ketika manusia-manusia itu berusaha mengikis kesadarannya. Nara hidup, tapi tidak dengan mimpinya. Nara hidup karena Biru yang memintanya. Menahan ia agar tidak pergi kemana-mana, tidak ke Mars, Neptunus, ataupun Neverland. "Nar, mungkin gak semua rasa sakit, amarah, dan apa pun yang kamu rasain bisa kamu sampaikan melalui lukisan. Lukisan gak melulu harus dibuat nyata saat kamu terluka, Nar."
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#731
biru
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Bintang Untuk Nara
  • Sejenak Luka
  • EPIPHANY
  • Savero Archandra || Haechan || END
  • Cool Boy Vs Cool Girl [Completed]
  • Kalaya [END]
  • Without You
  • Changing Me [Completed✔]
  • Langit Dara [End]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan