We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
KALOPSIA

KALOPSIA

  • WpView
    Reads 791
  • WpVote
    Votes 258
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 3, 2023
WpInfo
Fiction
Horror
Cala itu plin-plan, ia tak suka dihadang banyak pilihan. Pendapat hati dan pikirannya bertentangan, yang punya raga ingin satu tujuan. Cala ingin dua, bergandeng tangan disisi kiri dan kanan. Tapi bukankah itu serakah? Harusnya hanya boleh satu tujuan, tapi sisi mana yang harus Cala pisah? Jika disetiap sisi bagi Cala bukan sebuah pilihan? "Aku mau kamu, tapi aku juga tak ingin dia pergi. Bisakah tetap disini, untuk nyakinkan aku bahwa kamu takdir yang harus aku pilih?" -Cala Ghania Afsin- End?_
All Rights Reserved
#570
klasik
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • FEARLESS || JAYISA
  • Dunia lain
  • Melankolia
  • INDIGO - HIATUS
  • AKANDRA
  • Langit Yang Merenggut Cinta
  • The Sea of Corpses
  • The Cleo & Love
  • AMURTI

Hidup itu pilihan. Tapi ada karena suatu kesalahan bukanlah suatu keinginan. Toh yang namanya manusia pasti pernah khilaf pada masanya. Siapalah yang bisa mengira seperti apa Tuhan menorehkan takdir seseorang. Sera, gadis cantik yang terlahir mandiri sejak kecil itu ditakdirkan bertemu dengan Kafka, laki-laki yang selalu ingin terlibat dalam setiap proses dan langkah kecilnya. Membuat Sera mau tidak mau menerima eksistensinya. Bersamaan dengan itu banyak hal baru yang Sera temukan, termasuk menekan rasa takutnya untuk memperjuangkan Kafka, agar selalu menjadi miliknya. Pun dengan Kafka yang juga melakukan hal yang sama. "Ka, aku nggak pantes ya berdiri di samping kamu?" "Kata siapa? Ra, hidup itu simpel, Tuhan kasih banyak opsi buat dijadikan pilihan. Kalau nggak bisa berdiri di samping aku, kamu bisa duduk di pangkuan aku. Jangan takut, Ra. Mereka cuma iri. Kita bisa berjuang sama-sama." "But i'm a mess." Kafka tersenyum, "Kalau gitu kita tata lagi perlahan, sampai kembali seperti semula. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan, selagi bersama, semuanya bakal berjalan sesuai rencana, Ra."

More details
WpActionLinkContent Guidelines