Chatra de' Varsha

Chatra de' Varsha

  • WpView
    reads 21
  • WpVote
    Stemmen 3
  • WpPart
    Delen 2
WpMetadataReadLopende
WpMetadataNoticeLaatst gepubliceerd din, jul. 2, 2024
Chatra de' Varsha Hujan dan payung. Saling membawa aksarasi, hujan selalu menjadi lara bagi dia yang terluka. Bagi payung, ia ingin selalu menjadi tadah penghalang hujan semakin menyayat lebih banyak lara di tubuh orang yang ia naungi. Gadis nan candala anggun itu, menarik perhatian Abi. Gadis misterius pemilik rupa teduh, yang setiap ucapannya meninggalkan makna. Di setiap perkataannya membuat Abi berpikir, apa yang ingin gadis itu sampaikan sebenarnya. *** Bukan cerita anak sekolah, tapi aku hanya menuliskan, lelaki seperti apa yang aku mau. Lelaki greenflag yang aku maksud, tapi dalam porsi secukupnya. Bukan lelaki sempurna, aku tahu kok, tidak ada manusia sempurna di dunia, hehe. Selamat membaca, selamat berkelana menuju mimpi. Maaf jika nantinya banyak menurunkan ekspektasi kalian:))
Alle rechten voorbehouden
#870
payung
WpChevronRight
Word lid van de grootste verhalengemeenschapOntvang persoonlijke verhaal aanbevelingen, sla je favorieten op in je bibliotheek en geef commentaar en stem om je gemeenschap te laten groeien.
Illustration

Je bent misschien ook geïnteresseerd in

  • Tentang Hujan
  • Rain-A
  • SEMUA KARENA HUJAN [COMPLETED]
  • She Pluviophile
  • CINTA TANPA AKHIR {END}
  • Fira Florin
  • Varsha & Ancala ✅
  • Lost in Reverie [Moqeel]
  • Langit dan Cahayanya
  • ALWAYS US (END)

Aku hanya diam, dan orang lain lalu lalang. Aku berdiri di sudut sebuah terminal, menunggu bus yang akan mengantarku berangkat ke sekolah. Mungkin tak tepat juga dikatakan menunggu bus, karena bus yang menuju ke arah sekolah sudah dari tadi berangkat, dan aku melewatkan banyak bus, menunggu hujan reda. Bukannya aku tak suka hujan, aku hanya tidak membenci hujan. Biasa saja. Hanya air yang turun dari langit, itu saja. Tapi banyak orang yang menanggapi hujan dengan berlebihan, seperti yang ada di sekitarku sekarang. Terlihat seorang ibu-ibu yang membawa dagangan yang akan dijualnya di pasar repot menutupi barangnya agar tak kebasahan. Ada seorang bapak yang mondar-mandir dan memakai telepon genggamnya, sepertinya dia seorang bos suatu perusahaan, dia terlihat memaki-maki, bukan memaki orang yang ada di seberang telepon, tetapi memaki hujan. Hujan, kau mau apa sebenarnya?

Meer details
WpActionLinkInhoudsrichtlijnen