I Raised the Best

I Raised the Best

  • WpView
    Reads 3,656
  • WpVote
    Votes 656
  • WpPart
    Parts 45
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 31, 2025
WARNING❗ memiliki bahasa yang berat dan baku! Blondina adalah seorang putri dengan darah biasa di nadinya. Dia tinggal dengan tenang di Istana Bintang di antara surga, tetapi suatu hari, dia menyembuhkan seekor kucing yang terluka. Kucing itu menjadi balsem bagi hidupnya yang kesepian. Tapi kucing cantik itu sebenarnya... *** Amon menginjak leher sang pangeran. Mata Amon menatap dingin pada sang pangeran "Manusia berani mengancam milikku?" "Aku tidak tahu... aku tidak tahu, ini Blondina..." "Ya, aku juga tidak tahu. Berapa banyak kekuatan yang harus disesuaikan agar kau mati" Saat Blondina, yang sedang menonton, meraih pergelangannya untuk menyeret Amon, Amon berbalik perlahan dan menertawakan Blondina. "Jangan khawatir, Blondina. Aku akan membunuh apapun yang mengganggumu." *** Apa yang harus dilakukan dengan dia. Sepertinya aku mengambil makhluk menakutkan tanpa sepengetahuanku.
All Rights Reserved
#909
siluman
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Thorns of the Sovereign
  • [1] Takdir Putri Kecil Yang Liar
  • The Fading Light Of Helena [ Revisi ]
  • Takdir Diujung Pedang.
  • Claretta [END]
  • Kiara's Transmigration
  • Daddy,Im your Daughter!

Di tengah reruntuhan perang, Kaisar Hunter Thorne Valerian, penguasa berdarah dingin dari Kekaisaran Virellia, menjatuhkan vonis mati kepada semua bangsawan pemberontak-kecuali satu: Princessa Veyra Aldebrant, putri satu-satunya dari Duke Aldebrant yang legendaris. Bukannya membunuh, Hunter mengurung Cessa di dalam istana megahnya. Dunia menyangka ia menahan gadis itu sebagai simbol kemenangan-tapi hanya Hunter yang tahu alasan sebenarnya: ia menginginkannya, sepenuhnya. Cessa bukan sekadar tawanan. Ia adalah obsesinya sejak pertama kali melihat gadis itu menangis di medan perang, masih berusia lima belas tahun. Kini, ia ingin lebih dari sekadar memiliki tubuh Cessa -ia ingin jiwanya. Cessa tumbuh dalam bayang-bayang musuh ayahnya. Namun, hatinya mulai retak saat Hunter menciuminya bukan dengan kasih, tapi dengan kelaparan. Saat tangan yang menahan juga menjadi tangan yang menghangatkan. Dan malam-malam di istana mulai diwarnai bisikan rahasia, gesekan napas, dan jeritan yang tertahan di balik sutra tempat tidur kaisar. Tapi cinta yang lahir dari ketakutan... apakah bisa menjadi cinta sejati? Atau hanya obsesi beracun yang tak pernah berniat melepaskan?

More details
WpActionLinkContent Guidelines