kidung sang poejangga

kidung sang poejangga

  • WpView
    Reads 295
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadComplete Thu, Jan 20, 2022
"Menangislah di pundakku." Jenar malah menidurkan dirinya di atas rerumputan yang kemudian disusul Galih. "Seakan-akan perasaan sedihku terbang ketika melihat langit," ungkap Jenar Galih menutup rapat mulutnya untuk mendengar Jenar menangis. Kata orang, hidup orang dewasa itu rumit, lantas mengapa di usianya sudah serumit ini? Apa besok akan lebih rumit lagi? Jika benar begitu, ia tidak akan ingin menjadi dewasa. Mungkin beberapa orang tidak menyadarinya, tetapi terkadang hidup memang tak adil. "Rasa sakit adalah temanku," sambung Jenar. "Kau terluka dan akan pulih." Mendengar itu isakan Jenar semakin jelas. "Ceritakan kabar baik." Jenar harap ada obat dalam lukanya, tetapi yang terjadi hanya keheningan. "Kenapa kau bertindak nekat tadi?" cerca Jenar mengingat insiden siang tadi. "Karena aku tahu kau menyukai buku." Lagi-lagi Jenar tak habis pikir. Jelas nyawa Galih lebih penting daripada segepok untaian huruf. "Galih." Yang dipanggil hanya diam tak menyahut. "Apa impian terbesarmu?" Galih berpusing mencari kata yang pas. "Menjadi tentara." ◇─◇──◇─────◇──◇─◇ 𝘉𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵; #373 𝘥𝘪 𝘤𝘦𝘳𝘱𝘦𝘯 #4 𝘥𝘪 𝘦𝘥𝘶𝘤𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯 #2 𝘥𝘪 90𝘴 #22 𝘥𝘪 𝘬𝘶𝘯𝘰 #99 𝘥𝘪 𝘸𝘢𝘳 #117 𝘥𝘪 𝘩𝘪𝘴𝘵𝘰𝘳𝘪𝘤𝘢𝘭 #1 𝘥𝘪 𝘸𝘸2 #2 𝘥𝘪 𝘸𝘰𝘳𝘭𝘥 𝘸𝘢𝘳 #149 𝘥𝘪 𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘳𝘢𝘩 #59 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘳𝘢𝘩
All Rights Reserved
#151
education
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Secangkir Tawa, Sebotol Air Mata
  • (COMPLETE) UAJC Tiara Baron ( Untuk Apa Jatuh Cinta )
  • Aku Ingin Bercerita
  • Yes! Mr. Husband | TERBIT✓
  • Kenapa Harus Aku?! || Kim Sunoo [END]✓
  • Important Figuran (END)
  • Tutorial Berpikir Benar untuk Pemula
  • MY PETERPAN ALEN
  • RAGARA [ on going ]
  • Mentari Tak Harus Bersinar (Dokter-Dokter)MASIH LENGKAP

Di balik semarak kehidupan remaja masa kini-dengan media sosial, deretan target nilai sempurna, dan tawa di antara bangku sekolah-tersimpan cerita yang tak terucap. Dulu, namanya adalah tawa. Gemericik riang yang tak pernah pudar, seolah hidup hanya tentang matahari dan permen kapas. Nasya Zevillia, gadis dengan senyum selebar cakrawala, yang tak pernah tahu bahwa di sudut takdir, sebuah badai telah menunggu. Badai yang akan merenggut suaranya, mematahkan langkahnya, dan mengukir luka tak berdarah di kedalaman jiwanya. Ia akan belajar bahwa hidup adalah rangkaian kehilangan, bahwa cinta bisa datang dari tempat tak terduga, dan bahwa ingatan-bahkan yang paling menyakitkan sekalipun-adalah kunci untuk menemukan siapa dirinya yang sesungguhnya. Sebelum semua itu terjadi, dia hanyalah seorang gadis yang mengira dunia itu sederhana. Ia belum tahu, bagaimana rasanya menjadi bekas luka tak berdarah. Ini bukan hanya kisah tentang tumbuh dewasa. Ini kisah tentang bertahan-dengan tawa, air mata, dan luka yang belum sembuh. oOo "Dia bilang mataku sayu seperti dihantui, aku bilang aku tidak tidur, karena mimpi-mimpi ku hancur,"

More details
WpActionLinkContent Guidelines