Jingga dan lara

Jingga dan lara

  • WpView
    Reads 49
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 21, 2021
Jingga dan pesakitannya dalam berumah tangga, merasa bahagia dan sakit dalam bersamaan. Bahagia karena putra sambungnya mau menerimanya, dan sakit selalu kalah dengan hal yang sudah hilang dari dari dunia ini. Apakah kesabaran Jingga mampu untuk terus menunggu? *Sorry ga jago bikin deskripsi hehe Semoga kalian suka cerita pertamaku :)
All Rights Reserved
#15
adam
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Aku Padamu Ya Ukhti (Selesai)
  • I'm promise with you
  • Dari Tetangga Jadi Rumah Tangga (HIATUS)
  • Madu Dari Surga (COMPLETED)
  • masihkah bersama senja
  • Lady In Black Life
  • 𝐒𝐀𝐓𝐔 𝐒𝐇𝐀𝐅 𝐃𝐈𝐁𝐄𝐋𝐀𝐊𝐀𝐍𝐆𝐌𝐔
  • Goresan Takdir
  • AKHIR DARI PERJUANGAN (Season 1KISAH CINTA YANG BELUM SELESAI)

"Memalukan." ujar Azzam sinis, tatapannya datar. Asya tersentak, senyumnya memudar, ada apalagi dengan suaminya. Kenapa sikapnya selalu berubah. Apa katanya tadi 'memalukan' apa maksudnya. "Ma-maksud mas apa?" tanya Asya bingung. "Jangan pura-pura tidak tahu." sinis Azzam. Asya mengerutkan keningnya. "Asya gak ngerti, maksudnya apa. Asya buat salah lagi?" jawabnya lirih. "Kenapa kamu itu gak bisa sadar diri." ujar Azzam dengan nada dingin. Asya menunduk dalam, "Kalo mas gak bilang Asya juga gak tahu." jawab Asya, suaranya mulai bergetar. Azzam mengusap wajahnya kasar, segera ia beristigfar. Takut syetan menguasai dirinya ketika marah. Dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. "Tadi kamu pulang sama siapa?" tanya Azzam, matanya menyorot tajam. Asya yang melihat itu pun mulai takut. Ia lupa memberi tahu Azzam tentang itu, dan ... darimana Azzam tahu hal ini. Astagfirullah kenapa ia selalu saja ceroboh. "Gak bisa jawab, kan." sindir Azzam. Ia berjalan ke dalam kamar dan menutup pintu dengan keras. Asya segera tersadar dan menyusul langkah Azzam. "Mas Asya bisa jelasin." pekik Asya dari luar kamar, ia menggedor-gedor pintu namun tak digubris oleh Azzam. "Mas Azzam salah paham, Asya bisa jelasin. Itu semua gak kayak yang mas pikirin." ucap Asya dari luar. Hening. "Mas," panggil Asya mulai pasrah. Sepertinya Azzam benar-benar marah, ini semua karena kecerobohannya sendiri. Menyalahkan Fahmi juga bukan pembenaran, karena ia membantunya untuk menjalankan amanah. Cover by Nurhanifah

More details
WpActionLinkContent Guidelines