Manusia tak akan pernah bisa mengendalikan takdir. Sejauh apapun seseorang berlari, takdir pasti selalu datang menemui tuannya. Sangat menyakitkan bila itu takdir buruk. Tak mudah untuk Ikhlas, tapi harus tetap mencobanya - Maharani Adhisti - **** Seseorang mendekapku dari belakang. Aku ingin meronta, tapi Aku tak berdaya. Aku melirik ke kiri. Gara terpaku di tempatnya. Gara. Ingin sekali Aku memanggilnya. Aku ingin berlari ke arahnya, namun seseorang itu semakin erat mendekapku. Aku tak bisa bergerak. Diam tepaku dalam pelukannya. "Gara, please help me!" kataku dalam hati. Aku menutup mata. Seperti dalam sebuah ruangan yang gelap. Tubuhku mendadak kedinginan. Tak kurasakan lagi pelukan itu. Panji sudah pergi, barangkali. Aku menelan ludah. Kabut asap tersibak di kanan kiri. Aku melewatinya pelan-pelan. Seperti masuk ke dalam mesin waktu, tiba-tiba Gara ada di depanku. Kini taman itu telah berubah menjadi kamar. Pria itu sedang duduk di sebuah dipan. Menatapku dengan sorot matanya yang tajam. Kami saling memandang. Saling menatap. Saling menyelami mata masing-masing. "Rani...." panggilnya. "Hmm?" responku. "Sebenarnya Aku juga menyukaimu, tapi cuma setengah-setengah. Jadi, jangan terlalu berharap padaku" ungkapnya. Aku melotot seketika. Apakah aku tak salah dengar? ***** Rani terjebak dalam cinta segitiga, namun ia tak bisa memilih salah satunya. Rani menyukai Gara, tapi Panji selalu meratukannya. Haruskah Rani melukai perasaan salah satunya? Ataukah ia memilih untuk terluka bersama keduanya? Penasaran? Let's Reading Soon🔥🔥
More details