My Fragility

My Fragility

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 14, 2021
Sepi, sendiri, selalu dua kata itu yang menghiasi hari-hariku. Bagaimana aku harus terlihat kuat didepan orang lain dan tegar dalam menghadapi segala hal. Tapi, di satu sisi aku hanyalah gadis yang masih ingin bermain-main dengan masa remaja seperti banyak orang lainnya. Aku ingin merasakan jalan-jalan dengan teman, kerja, bermain, jatuh cinta. Ya, memang benar aku mengalami itu semua. Tetapi, jatuh cinta? Impossible dalam hidupku. Tidak ada yang menarik di diriku yang dapat memikat para pria di luar sana. Tidak hanya jatuh cinta, semua hal menarik yang kuciptakan juga untuk menutupi segala kekurangan dan kesedihanku di dalamnya tanpa diketahui orang lain satupun. Hai guys, sebelum dilanjut kenalan dulu yuk denganku. Aku Silena, umur 18 tahun. Aku harap kalian suka dengan ceritaku ya. Cerita yang didalamnya tidak banyak orang disekitar ku tau~~
All Rights Reserved
#226
lifestory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • Kamu [SELESAI]✔
  • Tentang Kita || JOSHUA x JEONGHAN
  • That Day: Long Before
  • My Life, My Destiny
  • The One They Wanted
  • [END] When the Stars are Tired
  • Cerita Tentang Kita

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines