Di ruang kecil berpendingin udara yang sering sepi itu, Asta merasa jadi dirinya sendiri. Kadang menjaga lab bukan kewajiban, tapi alasan. Alasan untuk menjauh sejenak dari kebisingan luar, dari ekspektasi, dari rutinitas. Hingga sebuah suara memecah rutinitas. "Permisi, katanya di sini bisa ngeprint ya?" Asta mendongak. Dan untuk sesaat, dunia berhenti. Dia-gadis itu-berdiri di ambang pintu. Rambut coklat sebahu yang tergerai rapi, tas selempang di bahu, dan senyum ringan yang tak dibuat-buat. Tapi yang paling Asta ingat adalah mata itu-mata yang jernih tapi penuh cerita. Seperti panggung sebelum lampu sorot dinyalakan. Arunika Rhea Celistia. Nama itu langsung tertanam dalam benak Asta. Bukan hanya karena namanya indah, tapi karena cara dia mengucapkannya, seolah sedang memperkenalkan tokoh utama dalam naskah drama. Dalam hati, Asta mencatat setiap kata. Ia jatuh cinta. Bukan cinta yang meledak-ledak seperti di film-film, tapi yang tumbuh pelan-pelan, sejak ucapan "permisi" pertama kali keluar dari bibir Arunika. Sejak notifikasi WhatsApp itu masuk. Sejak tahu mereka berasal dari prodi dan fakultas yang sama, semester yang sama, dan mungkin-hanya mungkin-langit yang sama juga merestui pertemuan ini.
More details