Story cover for Ein Traum by alityafredella
Ein Traum
  • WpView
    LECTURES 290
  • WpVote
    Votes 22
  • WpPart
    Chapitres 3
  • WpView
    LECTURES 290
  • WpVote
    Votes 22
  • WpPart
    Chapitres 3
En cours d'écriture, Publié initialement sept. 17, 2021
Ketiga gadis itu terus tertawa pada salah satu meja sebuah kafe, entah apa yang mereka tertawakan. Suasana kafe saat ini lumayan ramai, namun mereka tak menghiraukan sekitar. Sepertinya orang-orang di sekitar mereka juga tak terganggu dengan suara tawa menggelegar ketiga gadis tersebut.

"Halu lo terlalu tinggi Ta " ucap salah satu gadis seraya memukul-mukul pundak gadis di sampingnya.

Gadis yang di sebut namanya hanya mencibir, padahal mereka juga ikut andil. Tapi mengapa hanya dirinya saja yang di katakan menghalu?.
Ingin sekali ia membuang kedua sahabatnya ini ke antartika.huh.


# 1_ just a dream
Tous Droits Réservés
Inscrivez-vous pour ajouter Ein Traum à votre bibliothèque et recevoir les mises à jour
ou
#75cogan
Directives de Contenu
Vous aimerez aussi
Sudut pandang (felisha), écrit par alghisty_
7 chapitres En cours d'écriture
"Kasih gue tutorr dong din. Kayaknya lo gampang banget bisa punya pacar. Masa gue yang ganteng gini belum bisa dapetin feli juga? Lo sih fel. Susah banget di gapai. Tinggal terima gue kenapa sih? Gue kan iri sama nadine" omel galuh menyalahkan felisha membuat felisha memutar bola matanya malas. "Ya lagian, ngapain juga lo sukanya sama gue? Kan banyak cewe lain yang bisa lo sukain" cibir felisha. "Ya ngga tau, ini semua kan gara-gara lo. Siapa suruh lo cantik, gemesin, nganenin, lucu gitu? Kan gue jadi suka sama lo" *** Galuh menggeleng cepat "Ngga kok, Ayo bareng aja. Searah juga kan tujuan kita. Ke pelaminan" gurau Galuh dengan alis yang ia naik turunkan membuat felisha berdecak. "Buru! Ngga usah bercanda. Gue Ngga punya banyak waktu" desak felisha. Karena sebentar lagi shift kerjanya akan dimulai, menjadi seorang barista di caffe Coffee yang terkenal membuatnya menjadi super super sibuk disela tugas kuliahnya. Galuh murung, karena gombalannya yang sama sekali tidak mempan untuk felisha "Ya kan siapa tau nanti bukan sekedar candaan lagi fel. Tapi jadi kenyataan" ^^ "Gue buru buru itu karena Ngga pengen ketemu lo galuh" terang felisha membuat Galuh mencibir. "Jahat banget omongan lo sha. Tapi tenang aja, gue Ngga sakit hati kok" ^^^ "Ayo! Galuh tolong anterin gue ya. Nanti gue bensinin" ujar felisha sembari melongokkan kepalanya ke samping, agar bisa melihat wajah galuh yang tertutup helm hitamnya. "Dikiranya gue ojek kali. Padahalkan gue rela lakuin apapun buat dia, jangankan nganterin. Nemenin jadi suami aja pasti bakal gue jabanin" gumam galuh mencibir. "Hah?? Lo ada bilang sesuatu galuh?" "Ngga. Gue cuma bilang iya felisha cantik, lucu, unyu-unyu, gitu kok" Aku Ngga ngarep banyak yang voment, tapi disini Aku cuman pengen karya Aku bisa sampai tamat aja. Ngga lebih
Vous aimerez aussi
Slide 1 of 10
Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓ cover
Jeya✔️ cover
Sudut pandang (felisha) cover
Arsyilazka cover
D U D A cover
keluarga Andra  cover
MFS ✓ cover
Step Mom   |NoMin cover
Behind The Smile (TERBIT) cover
ASMARALOKA || Love or Reality?  cover

Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓

15 chapitres Terminé

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."