We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
ALLANXI

ALLANXI

  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Feb 7, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Sinopsis: "TOLONGG!! TOLONGGGG!." Teriak seorang perempuan Seorang pemuda bernama Maximillan Justin Leonard sedang mengendarai motor nya untuk pergi ke markas, mendengar suara teriakan seorang perempuan minta tolong, pemuda tersebut langsung saja pergi ke arah suara minta tolong itu. "Lepas." Ujar Maxi, dingin "Siapa lu?! Gausah ikut campur urusan gua sama cewe gua." Ucap pria itu emosi "Bacot! Lepas atau lu mau mati disini?!" Ancam Maxi Pria tersebut pun langsung melepaskan tangan perempuan itu. Dia yang merasa tangan nya sudah terlepas dari cengkraman mantan pacar nya pun langsung bersembunyi dibalik tubuh Maxi. "Awas lu!." Tunjuk pria tersebut ke perempuan itu Kemudian pria tersebut pergi dari situ. Maxi memandang datar perempuan yang bersembunyi di belakang dirinya. "Lu gapapa?." Tanya Maxi, datar. "Gua gapapa, makasih udah nolongin gua." Jawab perempuan tersebut dengan mata sembab nya. Penasaran? Yuk ikutin kelanjutan ceritanya disini! Happy Reading🌸 *** Publis: 5 Februari 2022 End:- *Maaf Jika Ada Kesamaan Nama Di Lapak Lain, itu unsur ketidaksengajaan ya tsay. *Jangan lupa vote&comment😉
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • INTO IT
  • Raka dan Tania (Completed)
  • GARENDRA
  • ALGARKA
  • ALBAR
  • REXYLOSS
  • FALETTA
  • SPOILEDBOY
  • Rey's Story [END]
INTO IT

Bagi Azelle Claire Hawthorne, setiap orang memiliki cerita. Dan sebagai seorang jurnalis, tugasnya adalah mendengarkan lalu menuliskannya. Sementara bagi seorang hakim muda, setiap cerita harus didengar, dipertimbangkan, lalu diputuskan berdasarkan hukum. Mereka terbiasa memahami kehidupan orang lain. Ironisnya... Mereka justru gagal memahami perasaan mereka sendiri. Di antara kesibukan, rutinitas, dan pertemuan-pertemuan yang awalnya terasa biasa, keduanya perlahan menjadi bagian dari hidup satu sama lain. Tak pernah ada pengakuan. Tak pernah ada kepastian. Karena mereka sama-sama percaya bahwa masih ada waktu. Sampai suatu hari, diam menjadi jawaban yang sama-sama mereka salah artikan. Dan saat mereka akhirnya menyadari apa yang sebenarnya mereka rasakan... Mungkin semuanya sudah terlambat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines