Setetes Darah [Revisi]

Setetes Darah [Revisi]

  • WpView
    Reads 16,691
  • WpVote
    Votes 1,916
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 1, 2023
Terlahir seorang pangeran, baik hati, berdarah bangsawan, Bernama Kian Santang... Banyak pendekar yang mengicarnya, karena darahnya yang istimewa, dari bayi Kian santang sama sekali tidak bisa dilukai oleh senjata apa pun Namun, ada satu senjata yang dapat melukainya yaitu. Pedang... Zulfikar. Para pendekar sakti berlomba lomba agar dapat mendapatkan pedang tersebut, dan bisa melukai Kian santang untuk bisa mendapatkan darah sucinya Akankah Kian Santang bisa menghadapinya?
All Rights Reserved
#2
alwi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • To the Happy Ending✓
  • Harta, Tahta, atau Nyawa?
  • Again To Love In Another Life [END]
  • BALAS DENDAM! ✔
  • THE DEMONIC YOUNGEST DAUGHTER
  • KETURUNAN ANGGORO (New Version)

Ketika kematian menjemputmu setiap saat, keinginan terbesar dalam hidup Zata adalah setidaknya sekali saja, sekali saja dia ingin mati dengan tenang! Kenapa ia selalu berakhir tragis dan menyedihkan seperti ini?! Dari mati sebagai gelandangan tunawisma di gang sempit, kelaparan sampai malaria, prajurit yang gugur di medan perang, dituduh penyihir sampai hukuman gantung, hampir semua jenis kematian sudah dirasakan oleh Zata. Dia sendiri bahkan terheran-heran bagaimana ia bisa terus menerus mengulang kehidupan dan kematian bagai lingkaran looping yang terus berputar, menjebaknya. Ketika akhirnya ia merasa bosan oleh kehidupan yang terus berulang ini, Zata menumbuhkan satu kebiasaan buruk yang bahkan ia sendiri tidak sadari yaitu, "Ah sudahlah, pada akhirnya aku akan mati lagi!" Begitulah yang sekiranya ia pikirkan sehingga sekarang baginya nyawa bukanlah sesuatu yang berharga lagi. Dia kerap mati konyol dalam insiden-insiden yang sebenarnya bisa ia cegah, hindari, atau malah atasi. Namun pada satu malam, di kehidupan yang entah ke berapa sekarang, di mana di kehidupan ini ia merupakan seorang pedagang kain, bersama para pedagang lainnya Zata berbaur dengan kalangan bangsawan yang tertarik dengan barang mereka. Di satu malam yang cukup mencekam, di pesta yang seharusnya meriah penuh suka tawa, sebuah pemberontakan, kudeta terjadi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines