The Eternal

The Eternal

  • WpView
    Reads 19
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 21, 2021
Semesta itu adil. Dia memberikan kita kebahagiaan dan duka.Memberikan hikmat dari kejadian kejadian yang telah lalu.Namun,mengapa dia memberikan ku luka yang sangat dalam ini? Merebut satu satunya kebahagiaan yang tertinggal. Meninggalkan ku sendiri disini. Jejaknya masih berbekas dibenak ku.Memori indah itu sangat sulit untuk dilupakan,bahkan hanya mengingat saja aku bisa mengulas senyum terbaik ku, tetapi anehnya mataku yang kering ini tergenangi air mata, menuntunnya turun membasahi pipi ku. "jangan menangis,sekarang aku ada disini, orang yang selama ini kau cari ada disini,dihadapan mu" tangannya berada di atas kepala ku, mengusap rambut ku lembut, menawarkan kenyamanan pada ku. Tangan itu beralih mengusap pipi ku yang basah, menghapus jejak air mata yang ada. Mungkin wajah ku sangat abstrak sekarang.Ku lihat dia terkekeh kecil, apakah wajah ku sejelek itu? Membuyarkan lamunan ku ,dia merapikan anak anak rambut yang tidak teratur,tersenyum pada ku memperlihatkan senyuman yang sangat sendu, senyuman yang dapat menghipnotis orang jika melihatnya."Jangan menangis lagi, kamu tambah cantik jika menangis" dia kembali mengusap pipi ku yang kembali basah.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • I Love You
  • AIRIS
  • Hijrah Cinta Sang Akhwat Fillah
  • PRACILLIYA. ✔
  • l'm Fine :) [ON GOING]
  • Just about my feeling 💜
  • You are in my past and my future [END]

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines