Diary Nay

Diary Nay

  • WpView
    Reads 18
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Oct 18, 2021
Dariku Untukmu, Cinta. Ini tentangmu. Orang yang pertama kali meluluhkan kerasnya hatiku. Yang tak pernah berhenti, meski aku terus menjauh. Yang tak pernah menyerah mencintai, meski aku membenci. *** Perihal mencintai, kamu yang paling hebat. Bahkan hati sekeras batu dan sedingin es. Dapat diterima oleh hati sebening air yang tulus mencintainya. *** Aku pernah membencimu karena mencintaiku. Menolak hadirmu dan segalanya tentangmu. Mungkin .... Agar aku bisa belajar dari luka dan penyesalan. Bahwa menghargai yang datang itu penting, meski hati menolak atau menerimanya *** Kamu mewakili seluruh rasa dalam hatiku. ~RF~
All Rights Reserved
#239
letter
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • MENCINTAIMU, SEINDAH TUHAN MENCIPTAKANMU
  • Enigma Sebuah Perasaan (End)
  • Untitled Romance
  • Diary Quotes
  • KONSEKUENSI HATI
  • • EUTANASIA •
  • Surat Cinta untuk Diriku Sendiri
  • My Quuen is Bad Gril
  • Heart Waiting For You
  • Cinta dan Takdir Rania [End]

Aku percaya cinta adalah sebuah pelukan hangat, bahkan di tengah gemuruh hujan. Tapi siapa sangka, pelukan yang sama kini meninggalkan dingin di tubuhku? Kamu meninggalkanku, dan aku tak pernah siap untuk kehilanganmu. Kehilanganmu bukan sekadar perginya seseorang dalam hidupku. Kehilanganmu adalah tentang diriku yang kian merapuh, bagian-bagian dari diriku yang tercerai-berai, seperti serpihan kaca yang tak tahu bagaimana akan kembali utuh. Aku mencoba menulis surat untukmu, berharap kata-kata bisa menggantikan kehadiran yang hilang. Namun, setiap huruf yang kutulis, hanya menambah luka, mengingatkanku pada rindu yang tak akan pernah sampai kepadamu. Mungkin, mencintaimu adalah keindahan sekaligus kutukan. Sebuah hadiah yang diiringi keperihan tanpa akhir. Dan di sinilah aku, yang dalam diam melangitkan namamu. Untukmu, yang kucintai dengan penuh Namun tak pernah menyadari kehadiranku. Buku ini sengaja ditulis untuk nama yang selalu kulangitkan namun enggan untuk menyambutku, yang hadirnya pernah membuat duniaku mekar dengan indah, yang kehilangannya membuat diriku merapuh bersama serpihan luka yang ia tinggalkan. Dan buku ini sekaligus dedikasi untuk mereka yang pernah kehilangan, untuk hati yang berani mencintai meski tahu akan terluka. Karena di balik setiap tetesan air mata, selalu ada cerita yang layak untuk diceritakan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines