Persephone (Hiatus)

Persephone (Hiatus)

  • WpView
    Reads 143
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Sep 26, 2021
[Cerita ini aku pending karena fokus tulis cerita "Surviving as a villain"] 18+ "Halo tuan putri," ucap seseorang dari arah jendela kamarku. Aku melirik secara perlahan karna takut, suara yang berat dan aura yang mencekam. "Kau?! Bagaimana bisa kau disini? Ini adalah kamar mandi. Kau sangat mesum!" ucapku pada seorang pria dekat jendela itu. "Aku hanya ingin melihatmu tuan putri," ucap Hades sambil melihat ke arah luar kamar. "Melihat? Maksudmu melihatku sedang mandi? Oh ternyata pewaris tahta kerajaan bawah itu sangatlah mesum ya," ucapku dengan nada sedikit menyindir. Dia lalu berbalik dan menatapku tajam, aku begitu kaget dan takut. Dia tersenyum dan mendekat. Yang penasaran, baca yuk Jangan lupa vote yaaa Kalo suka sama ceritaku, jangan lupa follow:3
All Rights Reserved
#31
hades
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cermin Ke Dunia Aetheria
  • Hai Om! Husband?!
  • My Horror •Irror•
  • To My Dearest : Hades
  • ᴍʏ ʜᴜꜱʙᴀɴᴛ ʟᴏʀᴅ ᴛʜᴇ ᴅᴀᴠɪʟ// Tahap Revisi
  • TANTAN ; with you [ ON GOING ]
  • You're my mine[End✓]
  • Silence Of Tears (TERBIT)
  • Dear Alex, Count Me In [END]
  • One Week Love 2 (Completed)

Raina, gadis 16 tahun dengan rambut sebahu dan tatapan selalu penasaran, berdiri terpaku di depan rumah tua yang diwarisi dari neneknya. Bangunan itu berdiri seperti bangkai raksasa di tengah desa kecil bernama Windmere, penuh dengan tanaman rambat dan cat yang mengelupas. Tapi yang paling menarik perhatian Raina bukan dindingnya, melainkan cermin besar di loteng, berbingkai perak dengan ukiran aneh seperti simbol bintang, mata, dan akar pohon. "Aneh... kenapa cermin ini dingin sekali, padahal lotengnya panas," gumam Raina, meletakkan tangannya di permukaannya. Begitu jari telunjuknya menyentuh simbol di sudut kanan atas, udara di sekitarnya bergelombang. Cermin itu bersinar lembut biru, dan permukaannya mulai berputar seperti pusaran air. Sebelum Raina sempat mundur, sebuah suara terdengar di dalam kepalanya: "Pewaris Cahaya, waktumu telah tiba." Dan dalam sekejap, tubuhnya tersedot ke dalam pusaran itu. Raina terjatuh di atas rerumputan ungu dan langit jingga - dunia asing yang tampak seperti mimpi dan mimpi buruk bersatu. Makhluk bersayap perak melayang di udara. Pohon-pohon berbisik. Di kejauhan, berdiri sebuah menara kristal yang memancarkan sinar ke langit. "Selamat datang di Aetheria," kata seorang anak laki-laki sebaya yang tiba-tiba muncul di sampingnya. "Kami sudah menunggumu selama dua abad."

More details
WpActionLinkContent Guidelines