Sang Malam

Sang Malam

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Sep 27, 2021
Ini tentang dia yang hidup tapi berkali kali dibuat mati, dia sehat namun batinya hancur, selalu berusaha berbuat baik kepada keluarga tapi selalu salah, ini tentang dia yang pernah depresi karena omongan orang tua sampe nyiksa dirinya sendiri, salah sedikit jadi bahan amarah sampe ngerasa tak ada Harganya Dimata keluarga, dan ketika di luar rumah selalu memakai topengnya buat nipu orang orang bahwa dirinya baik baik aja. Hidupnya yang penuh akan drama dan air mata adalah saksi bisunya, pengkhianatan sang kekasih dengan adik tiri, dikucilkan dari keluarga selalu ia rasakan, terpaksa tinggal dirumah karena sebuah alasan sampai akhirnya ia menyerah dan memilih meninggalkan rumahnya, kesunyian adalah temanya, teka teki kepergian sang bunda, mampukah dia bertahan dengan semua itu. jika kalian ingin tau kelanjutannya Langsung baca aja HASIL PEMIKIRAN SENDIRINYA✅ END✅
All Rights Reserved
#4
sadd
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Xyzie Andrean
  • DIARY DEPRESIKU
  • JIWA YANG MATI || COMPLETE
  • SELF LOVE
  • Titik Sendu || YOSHI✔
  • Just Once ✔
  • Javas Drexzer [END]
  • Takdir Sang Ilahi [END]

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines