THREE WISHES AFTER DIE

THREE WISHES AFTER DIE

  • WpView
    Lecturas 13
  • WpVote
    Votos 2
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mar, oct 12, 2021
WpInfo
Ficción
Terror
Daisha merupakan gadis yang tidak percaya hal hal gaib. Baginya, orang yang bisa melihat hantu itu mustahil. Dan baginya, anak indigo itu adalah bocah bocah halu yang cari perhatian. Zayendra Rovender, lelaki dingin berdarah Belanda yang tiba tiba mengungkapkan fakta mengejutkan bagi Daisha. "Ada Arwah yang ngikutin lo." Daisha mengernyit, lalu tersenyum menyebalkan. Gadis itu merotasikan matanya malas meladeni cowok gila ini. "Lo sakit jiwa?" Gadis dengan surai Cokelat seperti kayu eboni itu memandang Zayen remeh. "Sorry, Gue bukan dokter rumah sakit jiwa. So, mending lo pergi deh dari hadapan gue. Muak gue liat bocah halu kek lo!" Di usir seperti itu, Zayen hanya diam. Ia menatap Daisha datar. "Dia itu kakak lo." "Kakak? Wah makin gak waras ini bocah. Gue tuh gak punya kakak bego!" "Dia belum tenang," Zayen masih melanjutkan ucapannya tanpa peduli wajah Daisha yang ingin mencekiknya hidup hidup. "Masih ada banyak hal yang ingin dia selesain di dunia ini. Kakak lo punya 3 permintaan," Daisha tersenyum meremehkan. "Lo harus ke Pskieter! Otak lo memang nggak waras! Konslet! Minggir gue mau ke kelas!" Daisha mendorong kasar Zayen membuat lelaki itu menyingkir memberi jalan pada gadis kepala batu itu. "Cari pelaku pembunuhnya." "Cari jasadnya." "Dan terakhir," Zayen terdiam membisu sejenak. "Dia nggak mau sendiri." Daisha terus melangkah tanpa peduli peringatan Zayen, gadis itu masih memikirkan jika Lelaki yang bicara padanya tadi, adalah Cowok gila. "Dari pada lo ganggu gue mulu, mending lo ngepet sana!" Zayen hanya diam ketika melihat Daisha yang sedang di ikuti oleh sosok gadis dengan baju putih abu abu dengan kondisi mengerikan. Wajahnya berlumuran darah, rambut panjang menutupi sebagian wajahnya, dan yang paling mengerikan, sebuah pisau tertancap tepat di perut kirinya. Sosok itu menoleh sedikit menatap Zayen lalu berkata. "Jangan ikut campur..."
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • TUBUH GADIS NERD [END]
  • ARTAN
  • Devil in Your (ANGGARANTA)
  • EPHEMERAL PRINCESS {END} ✓
  • Obsesi Kepada Teman Sekelas (END)
  • ENDLESS SUFFERING [•Halilintar•] Empire Era
  • KOTA BANDUNG & GITA
  • (LENGKAP | SELESAI REVISI) Hello... Dudaku... (Sequel Off M.Gant)
  • Xagala

"Jangan menatapku". Abrar masih dengan mata terpejam "Kenapa ?" " Nanti kau bisa lupa pada pacar mu". "Pfffffpfffff" Awinda mengantupkan kedua bibirnya mencegahnya tertawa lebar. "Kau benar ". " Jadi kau sudah punya pacar". " Kau mengintrogasi ku ". Kini Awinda membalasnya. Abrar menelan Salivanya. Terdiam dalam senyapnya. Ia tak ingin melanjutkan pertanyaan apapun. Karena jika ia banyak tahu kenyataan, maka bisa jadi hal - hal pahit yang akan ia dapatkan. Hidup mengajarkannya untuk sering menerima kenyataan pahit ketimbang mengharapkan sesuatu yang ternyata hanya sebatas angan dan impian. "Cepat tidur". "Belum mengantuk" sahutnya cepat. " Kenapa kau biarkan aku mengambil baju dan celana mu padahal kamu punya tenda ini. ? Bodoh ". " Ambil lah apapun yang kau mau dari ku". " Sejak kapan kau menjadi buaya ? " " Setelah masuk kedalam lubang tanah dan bertemu ratu buaya ". Awinda mencubit perut Abrar. Sehingga ia menggelinjang nyeri dan meminta ampun. Ia meraih tangan Awinda dari perutnya dan meletakkannya didadanya. " Tidurlah, ini peringatan ku yang terakhir". Perlakuan Abrar membuatnya meringis, kini Abrar juga mulai mengamcamnya. Berusaha memejamkan mata dan perasaan hangat itu kembali menjalar ulu hatinya. Ia kesulitan untuk menarik nafas namun ia mencoba menghirup udara lewat mulutnya lalu mengeluarkan kembali perlahan. " Kau kedinginan ? " Abrar membuka suara, " Hmmm " "Kau bisa terkena hipotermia dan sulit bernafas".

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido