We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Letta dan Suratnya

Letta dan Suratnya

  • WpView
    Reads 151
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Aug 11, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Dilarang Copas dalam bentuk apapun ya :( Semoga Suka Ceritaku :) Jangan lupa vote , komentar dan share Jangan lupa follow aku Terimakasih :) Alessia Arletta gadis periang yang berubah murung setelah beberapa kegagalan dalam hidupnya . Tidak bisa dibayangkan bagaimana hidupnya setelah kepergian kekasihnya yang selama ini selalu menjadi warna dalam hidupnya . Bagi Letta Rasa cintanya pada kekasihnya adalah hal yang harus dia pertahankan . Walaupun menunggu lama Letta rela melakukan itu . Bagaimana bisa membuka Hati untuk pria lain sedangkan hati dan cintanya sudah habis untuk seorang pria . Apakah pria itu juga mencintainya dengan tulus atau hanya perasaan suka ? Apakah Letta akan terus menunggu atau memilih pria lain ? .
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Erlangga
  • Kita dan Sang Pencipta
  • Mendadak Menikah (SELESAI)
  • Ketos Vs Cegil
  • Aletta Inara [SUDAH TERBIT]
  • Aleksa (aletta&raksa) [END]
  • ALISYA &Alvaro
  • Cinta Dan Kasih Sayang (Writing Temporarily Suspended)
  • False Hopes
Erlangga

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines