Layaknya sebatang pohon yang kering,tidak berdaun,tidak berbunga apalagi berbuah.Begitulah perumpamaan bagi diriku Wila Wulandari, saat ini aku hidup sebatang kara ditengah kota . Ayahku meninggal saat aku masih berada dalam kandungan ibu yang baru berusia 8 bulan,aku anak satu-satunya.Dan kini aku harus menerima kenyataan bahwa ibu menyusul ayah dan meninggalkanku selamanya bersama milyaran kenangan yang terekam diotakku dan dirumah ini.Anggota keluarga ku yang lain jauh sekali,mereka tinggal ditimur tengah sana,Aku selalu mengumpamakan diriku bagaikan pohon yang kering tak terurus,sunyi,sepi,dan selalu merasa sendiri,dan rasa itulah yang mungkin mendorongku untuk lebih perduli dengan mereka yang terlantar dijalan
Aku tinggal dirumah peninggalan kedua orang tuaku dengan dua orang pembantu, yaitu Mbok Mar alias Bu Marni dan Pak Lani(pengganti pembantu lamaku yang bernama Pak Jaja) .aku sedang berusaha untuk dapat mengelola toko fotocopy yang dilakoni ibu sejak ayah meninggal dunia. Toko fotocopy itu cukup sederhana karena hanya menyediakan layanan fotocopy,jasa cuci foto dan alat-alat tulis, namun toko itu mempunyai enam cabang di kota ini
Sebenarnya ada hal yang janggal saat kematian Ibu,,memang ini adalah takdir yang sudah digariskan untukku,.tapi sepertinya,ada penyebab lain yang membuat ibuku meminum obat yang salah
Apa yang sebenarnya terjadi pada Ibuku?
Jika benar ibuku salah meminum obat,lalu siapa yang menaruh obat itu?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Izinkanlah rentetan-rentetan cerita berikutnya yang akan menjawab dan semoga cerita ini bermanfaat bagi kehidupan pembaca dan semoga bisa menjadi buku yang bisa diambil pelajaran didalamnya dan tidak merugikan orang lain
All Rights Reserved