Terlanjur Patah Hati

Terlanjur Patah Hati

  • WpView
    GELESEN 70
  • WpVote
    Stimmen 7
  • WpPart
    Teile 5
WpMetadataReadErwachseneninhaltAbgeschlossene Geschichte Sa., Nov. 13, 2021
Dunia adalah tempat segala permasalahan hidup bermunculan. Mengenai karier, keluarga, percintaan, impian, serta harapan; tak ada satu pun manusia yang benar-benar hidup tanpa Patah Hati. Setiap orang mendapatkan porsi yang sama, bobot yang sama, kesulitan yang sama. Akan tetapi, setiap orang pula memiliki caranya masing-masing untuk memetik sesuatu dari patah hati itu sendiri. Bagaimana berdamai dengan Patah Hati, bagaimana berdamai dengan hidup yang kadang tak sesuai harapan, dan terutama, berdamai dengan rasa egois. Cerita-cerita yang termuat dalam kisah ini barangkali tidak semuanya berasal dari pengalaman saya pribadi, melainkan juga berasal dari pengalaman orang lain. Tak bermaksud menggurui, hanya ingin berbagi pengalaman dan rasa. Bahwa setiap kesulitan selalu memiliki jalan keluar, dan setiap patah hati selalu membawa pelajaran berharga yang membuat kita mampu melangkah lebih hati-hati dengan hati di masa depan. Ig: agungsandy17 Twitter: @igasandy_
Alle Rechte vorbehalten
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • Halaman Hidupku
  • Yang Tak Terucap...
  • Life Script
  • Let Me Love You Longer
  • Struggled
  • Raga Arga  [Sudah Terbit]
  • Tidak Ada Kebahagiaan
  • Korban silaturahmi [TAMAT]

patah mana yang tak kupulihkan sendiri, sakit mana yang belum pernah ku rasakan. Saat dunia menuntutku tegar tanpa memperdulikan bagaimana aku bertahan. Setiap luka selalu ku peluk dalam diam, sembari belajar mencintai diriku yang perlahan hancur. Mereka selalu melihat senyumku, tapi tak pernah tau pertempuran yang ku rahasiakan di balik hati dan pikiranku. Aku berjalan dengan hati yang lelah, namun tetap berdiri meski runtuh dalam sunyi. Aku menangis tanpa suara, meratap dalam jiwa yang hampir mati rasa. Bahkan nafas pun terasa sesak, seolah dunia tak memberiku kesempatan untuk sekedar tenang. Sebab kalau bukan diriku, siapa lagi yang memeluk hatiku sendiri, saat semua memilih pergi ketika aku paling membutuhkan.

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien