Filosofi Milo | Haechan

Filosofi Milo | Haechan

  • WpView
    Membaca 96
  • WpVote
    Vote 25
  • WpPart
    Bab 4
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Rab, Nov 10, 2021
WpInfo
Fiksi Penggemar
NCT
Bagi Malika, Haidar itu adalah sebuah lampu jalanan. Disaat ia harus melangkah maju di sebuah jalanan gelap, disitu ada Haidar. Malika bisa-bisa saja melangkah dalam kegelapan. Tapi setelah ia menemukan sebuah lampu, ia selalu berharap disepanjang jalannya ada sebuah lampu yang ikut menerangi jalannya. Walau pada akhirnya pun ia harus melalui banyak hal untuk menjaga lampunya tetap utuh.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#525
hendery
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Jalan Pulang Menuju Halal ; Lee Heeseung
  • Sepekan Penuh Sayang [Tamat] || Jeno & NCT Dream
  • Segelap Malam (END)
  • Geng Bratadikara (TERBIT) ✓
  • GEVRONZ
  • WALKIE TALKIE|JUNG JAEHYUN✓
  • my lullabies | kdy
  • Jeandra | Lee Jeno ✓
  • Kembar 「NoHyuck」✔️✔️

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan