Sweet University

Sweet University

  • WpView
    Reads 237
  • WpVote
    Votes 213
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 8, 2022
Berawal dari Ibu seorang gadis berkacamata yang menginginkan putri memiliki mata yang indah tanpa adanya kacamata, sang Ibu pun mengajak Putrinya ke salah satu Dokter Mata yang berada di dekat Universitas putrinya. Namun putrinya menolak akan hal itu, akan tetapi Ibu nya bersikeras untuk mengobati putri kesayangannya itu. "Bu, aku enggak mau di operasi," Renggek putrinya "Tidak, Kamu harus di operasi" Kata Ibunya, "Maaf sus, tadi dengan dokter siapa ya? Yang jadwalnya kosong?" "Untuk jadwal hari ini, Dokter Lutfhi sedang kosong bu," Ucap seorang suster. "hah?! Lutfhi? Lutfhi siapa? jangan bilang..." ucap Putrinya dalam hati. "enggak, enggak mungkin dia.mm
Creative Commons (CC) Attribution
#591
university
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Balik Kacamata [END]
  • Perfect uncle ✓
  • Secret Admirer
  • Jatuh Hati
  • Secangkir Tawa, Sebotol Air Mata
  • Bersamamu
  • The Heiress Trap (END)
  • Amor Almira
  • Me and My Hot Dentist[SELESAI]

Hidup di perantauan, jauh dari keluarga, jauh dari rumah, selalu merasa sendiri meskipun ada banyak orang di kota metropolitan yang hampir sama padatnya dengan ibu kota. Perjalanan hidup yang tak mudah, apalagi bagi wanita yang sudah berusia lebih dari seperempat abad sepertiku. Aku kira hatiku sudah mati rasa, tapi sepertinya itu hanya praduga. Tak ada awalan berupa perjodohan maupun ta'aruf, seperti yang pernah aku jalani dulu. Hanya pertemuan alami yang tak terlepas dari kehendak Tuhan. Nyatanya tanpa ku sadari, hatiku perlahan jatuh pada seorang pria berkacamata yang awalnya bahkan tak mendapat perhatian khusus dariku. Perlahan, hal yang biasa berubah menjadi sesuatu yang tidak biasa karena terlalu sering menghabiskan waktu bersama. Satu hal yang terlambat aku sadari adalah kenyataan bahwa setiap manusia memiliki rahasia yang tak diketahui oleh manusia lainnya, begitupun dia. Sesuatu yang tersembunyi rapat di balik kacamata yang ia gunakan. Kacamata itu menjadi dinding pembatas yang menghalangi orang untuk mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya. Pada akhirnya, pilihan tetap berada di tanganku. Mau tetap bertahan atau malah memutuskan untuk pergi?

More details
WpActionLinkContent Guidelines