Dua Sisi
  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Apr 17, 2023
Kegiatan magang harusnya menjadi kegiatan mencari ilmu dan pengalaman. Tapi tidak dengan Nana dan teman-temannya. "Lampunya mau mati sih ini pasti, iya pasti." "Tadi ada yang jatuh, kamu denger kan?" "Kok bisa hilang? Ke mana?" "Lif, dia ngikut terus. Lif? Lif!" "Aku mau pulang" Perkebunan sawit tempat mereka magang menjadi saksi peristiwa mengerikan. Terkuak banyak misteri, tragedi masa lalu, air mata, teror, dan spiritual. Perkebunan sawit yang memiliki dua sisi yang saling berlawanan. Menolak untuk menyatu. 'Bagaimanapun, kalian tetaplah tamunya di sini'
All Rights Reserved
#161
nyata
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dark Tales From Deep In The KEBUN DJENGKOL (TAMAT)
  • DESA TANPA SIANG
  • BISIKAN IBLIS (NYAWA YANG TERGADAIKAN)
  • Lost Dadelis
  • SESAT DIHUTAN AOKIGAHARA | Liburan Menyeramkan
  • Shraddha : Bisikan dari Lorong Tua
  • Majananta
  • Hari Bersamanya
  • Manisnya TeBu
  • Warisan Gandari

(BASED ON TRUE EVENT) **** Ini adalah kisahku saat mengikuti perkemahan PMR Regional provinsi. Dimana lokasi yang ditempati merupakan tempat pembantaian terbesar PKI dimasanya. Kisah kelam korban di masa lalu membentuk entitas kengerian ditempat itu. Sosok-sosok yang masih tak terima saat dibantai karena ketidakadilan memenuhi lokasi area bekas Belanda tersebut. Disini mereka menanti. "Kebun Djengkol". **** BRAKKK... Tiba-tiba pintu itu menutup dengan sendirinya. Spontan aku yang kaget langsung berlari menjauhi. Ketika melewati tembok jalan keluar bilik kamar mandi, aku tak sengaja menabrak seseorang. "Cuk!!!" Awalnya pemuda itu sempat marah, namun ekspresinya berubah saat melihat wajahku yang sudah pucat pasi. Aku pun bengong sepersekian detik. Bukan, bukan karena terpesona melihat wajah orang tampan layaknya adegan film-film romantis remaja. Namun aku berusaha menenangkan diri dari sisa ketakutan. Pemuda itu menatapku dengan ekspresi yang susah dimengerti. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya kemudian. "Nggak apa-apa. Maaf nggak sengaja nabrak". "Kenapa? Habis liat hantu ya?" "Ah ituu ..." "Kuntilanak ma setan bocahnya masih ngeliatin kamu tuh." Ucapnya santai. Dadaku kembali berdegup kencang sambil mengumpat lirih. Kini aku ganti memandangnya lekat. Dan pemuda itu membalas reaksiku dengan menyipitkan mata. "Apa?" Tanyanya kemudian. "Kamu bisa liat kan 'mereka' kan?" "Liat apa?" Aku sedikit melangkah mendekatkan diri sembari berbisik "Demit" Pemuda itu sempat terbahak. Lalu tiba-tiba menjulurkan sebelah tangannya. "Aku Aji." ****

More details
WpActionLinkContent Guidelines