On Going [✔]

On Going [✔]

  • WpView
    Lecturas 14
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 32
WpMetadataReadContinúa8h 26m
WpMetadataNoticeÚltima publicación mar, ago 2, 2022
WpInfo
Fanfic
EXO
Anne, Kyle sekarang lagi di rumah sakit. Lu sekarang bisa kesini ga, sama bawain padding? Tadi -- Bak di sambar petir dimalam hari, hatinya terasa sakit. Tangannya bergetar hebat, ia langsung mematikan sambungan teleponnya sebelum Charlie menyelesaikan ucapannya. Dengan sangat panik Ia mengambil satu padding tebal milik Kyle dengan asal Aline berjalan sangat cepat, ia tak berniat untuk membawa mobilnya karena ia sangat syok dan tidak bisa berpikir secara jernih. Ia memesan taxi, selama di perjalanan ia hanya bisa menangis. Sesampainya di rumah sakit yang sudah diberi tahu oleh Charlie lewat pesan singkat, ia langsung berlari sambil memeluk erat padding yang diminta tadi. Ia menjadi pusat perhatian karena tangisannya dan yang menjadi perhatian lainnya adalah ia hanya menggunakan pajamas dengan sandal tanpa mengenakan kaus kaki atau jaket tebal, padahal udara malam ini sangat dingin sekali.
Todos los derechos reservados
#713
suho
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • ALEA: Gerbang Ketiga-Di Balik Pintu Tak Bernama
  • 𝔾𝕠𝕕𝕒𝕒𝕟 𝕔𝕚𝕟𝕥𝕒 𝕒𝕕𝕚𝕜 𝕥𝕚𝕣𝕚ᴱⁿᵈ
  • Pertemuan di Pasaraya
  • Melting Pole
  • CIK TENGKU & TUAN BODYGUARD | COMPLETE
  • Bumi
  • Mrs. Danish Rayyan (C)
  • Happy Birth (Death) Day
  • Blame me (HunHan)

Hujan jatuh di kota itu seperti benang tipis dari langit, memantulkan lampu neon yang berkedip lelah. Di persimpangan jalan, seorang lelaki berdiri dengan payung miring. Matanya mengikuti sosok perempuan yang berjalan cepat, menunduk, seolah menghindari dunia. Ia tak mengenalnya. Tapi jantungnya memukul seperti lonceng tua yang pernah ia dengar di tempat yang tak pernah ada di peta. Pasar malam di pusat kota menyala dengan warna-warna hangat, tapi suara penjualnya lenyap. Lampion bergoyang tanpa angin. Dan di sela-sela kerumunan yang tiba-tiba membeku, mata perempuan itu-mata yang sama seperti di hutan yang dulu ia tinggalkan-menatapnya. Di ujung sebuah lorong, bioskop tua berdiri sendirian. Dindingnya berlumut, pintunya berdebu, tapi dari celahnya keluar denyut cahaya yang tidak berasal dari proyektor. Pintu itu tidak ada kemarin. Dan besok, mungkin akan hilang lagi. Di rel kereta yang berkarat, cahaya asing turun seperti aurora yang tersesat. Bayangan-bayangan panjang menari di aspal, memanggil nama yang sudah lama tak diucapkan. Di sebuah gang buntu, sebuah toko buku yang tak pernah buka di siang hari menyimpan peta kota yang tidak pernah dicetak. Dan di bawah tanah, pasar gelap menjual kompas yang selalu menunjuk ke arah yang salah. Langit retak di atas jembatan. Retakannya halus, seperti kaca yang dicakar dari sisi lain. Di baliknya, bukan hanya bintang, tapi hutan dengan akar yang menjuntai, menggapai kota seperti jemari yang lapar. Di tengah semua itu, ia berdiri. Ia-yang dulu meninggalkan segalanya di hutan tak bernama-kini kembali, bukan sebagai Alea, tapi sebagai seseorang yang dipanggil Katiya. Ia tidak ingat siapa dirinya. Tidak tahu mengapa setiap langkahnya membuat kota ini makin kehilangan bentuk. Dan di ujung segalanya, ada pintu. Pintu yang tak bernama. Pintu yang hanya terbuka sekali-dan menuntut satu jiwa untuk menutupnya. ---

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido