Dunia Paralel [Discontinued]

Dunia Paralel [Discontinued]

  • WpView
    Reads 413
  • WpVote
    Votes 44
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 4, 2022
-"Hei, apa kau percaya adanya 'Dunia Paralel'?" -"ha? kau ini, sekarang 2021! mana ada yang kek gituan" -"haha... iya juga, mungkin itu mimpi biasa" -"mimpi apa?" -"eh- lupakan saja^^" -"ok...?" -"t-tolong... p-percaya lah padanya..." hai gaes, ini cerita pertama auth^^, jadi mohon diwajarkan kalo ada kesalahan dalam cerita ini ⚠️ warning ⚠️ •AU •a lot of typo •Yaoi (?) •Gaje
All Rights Reserved
#87
multiverse
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • FUKUSHŪ
  • Terima kasih Imajinasi [end]
  • Adrian S1- And Rise of The Tale(ON EDIT KE-3 Kali)
  • PARALLEL UNIVERSES
  • Who Make Me Fall [Revisi]
  • ALIEN | Yeonjun
  • GEVRONZ
  • Sepekan Penuh Sayang [Tamat] || Jeno & NCT Dream

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines