#kitaputus

#kitaputus

  • WpView
    Reads 123
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 12, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Leon dan Sangga resmi berpacaran sejak kelas XI SMA pada 2017. Lima tahun bersama, melewati masa putih abu-abu, tugas akhir kuliah, hingga wisuda, hubungan itu akhirnya berakhir pada 2025. Ironisnya, enam bulan setelah sama-sama lulus, mereka justru masih tinggal satu atap di sebuah apartemen di Jakarta Selatan. Bukan karena belum selesai satu sama lain. Tapi karena kontrak sewa unit dua kamar itu sudah dibayar lunas untuk setahun ke depan. Tak ada yang cukup punya uang untuk pindah. Leon, lulusan Seni Musik Institut Kesenian Jakarta, masih bekerja serabutan dan kini menjadi barista paruh waktu di sebuah kafe dekat apartemen. Di sela jadwal shift dan latihan, ia mencoba membesarkan band-nya, SOUTHBOUND, bersama Gion, Xandra, dan Sahen, band yang awalnya cuma proyek iseng kampus, tapi perlahan mulai naik panggung lebih serius sejak tampil di pensi SMA berkat bantuan Juno yang kini jadi manajer mereka. Sementara itu, Sangga menyimpan mimpi yang tak kalah besar sebagai lulusan Seni Rupa dan Desain IKJ. Ia ingin membangun lini mode sendiri, melihat namanya tercetak di label, dan suatu hari karyanya melangkah di runway Fashion Week. Di tengah proses merintis portofolio dan membangun koneksi, ia masih harus berbagi dapur, ruang tamu, dan sisa-sisa kenangan dengan mantan kekasih yang pernah menjadi rumahnya. Satu apartemen, dua kamar, dua mimpi besar yang bergerak ke arah berbeda. Keputusan untuk tetap tinggal bersama, apakah itu akan menjadi batu loncatan menuju masa depan masing-masing atau justru menahan mereka di masa lalu? Dan di antara jarak yang tak pernah benar-benar jauh itu, akankah hubungan Leon dan Sangga membaik... atau semakin retak? -------------------------- Disclaimer: Nama-nama artis yang digunakan dalam cerita ini adalah milik mereka sendiri. Cerita ini merupakan fiksi, sama sekali tidak terjadi di dunia nyata. Semua foto yang dipinjam dalam cerita ini bukan milik saya. Terima kasih sudah membaca.
All Rights Reserved
#143
leeleo
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Nakula
  • Salah Status [END]
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Stand by Me (END + MASIH BERANTAKAN, INI TULISAN PERTAMA GUE WOI MAKANYA BRNTKN)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Kembang Desa
  • Prahara Lamaran [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines