Qodim
  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 13, 2021
"Boleh ku tanya apa kesan pertamamu, ketika melihatku untuk yang pertama kalinya?" Julia memicingkan matanya, tanpa ragu dia menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu. "Aku iri padamu." "Boleh ku tau alasannya apa?" Keheningan menyelimuti atmosfer keduanya, begitu mencekik hingga seorangpun tak dapat menelan makanannya sendiri. Keduanya menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian Julia meletakan garpu ditangannya perlahan, "Aku merasa kamu lebih dari sekedar orang yang mengesankan. Di pertemuan pertama kita, bahkan seorangpun tak mengenal siapa dirimu. Dan kamu dengan begitu percaya dirinya, tanpa menunduk atau merasa minder... Menjabat tangan mereka dengan pasti." Sekali lagi julia menghela nafasnya berat, "Lalu ketika kamu dihadapkan dengan orang-orang yang berbeda, kamu akan menyesuaikan bagaimana cara mereka bergaul." Julia mengalihkan pandangannya dari orang itu, dia memandang keluar jendela untuk mengalihkan tatapan iri-nya. Dengan tatapan kosong dia mengaduk-aduk muffin yang ada dimeja, "Matamu jernih dan dalam seperti lautan, tak ada ujungnya. Sikapmu tegas tapi terlihat seolah malas, seperti singa yang tengah ingin tertidur. Walaupun kamu tak banyak tersenyum dihadapan mereka, tapi orang-orang akan luluh dengan argumen yang kamu ajukan pada waktu yang bersamaan. Aku iri padamu yang seperti itu." Gadis di depannya memandang julia, 'untuk apa dia merasa iri dengan hal-hal kecil seperti itu? Dia dan aku sama, kami memulainya bersamaan. Dia terlalu melebih-lebihkan apa yang ada.' Walaupun demikian, dia tetap menampilkan sosok yang tenang. Julia menatap mata gadis itu, "Dan kamu tau, kalau aku itu tidak seperti dirimu? Aku bahkan tidak memiliki keberanian untuk masuk dalam lingkungan pergaulan sendiri. Pada saat itu aku didampingi oleh kakak sepupuku, dan aku bertanya-tanya siapa orang didepan ku. Yang berani masuk dan memperlihatkan kepercayaan dirinya itu." Gadis itu tersenyum, "Aku tak sama seperti yang kau gambarkan julia."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • GRAVARENZO
  • The Time
  • Tsundere Maniak Susu
  • GHAIKA (REVISI)
  • Blueprint Pelarian Villain
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • I'm Not Just a Figuran
  • Transmigrasi Ziora

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines