To All The Sunsets We Missed
Kavi selalu percaya bahwa hidupnya masih membentang panjang. Di kepalanya, ia masih punya ribuan meter untuk berenang lebih jauh, jutaan tawa untuk dilepaskan lebih keras, dan sisa usia yang tak terhingga untuk menetap di dunia yang baginya terlalu indah untuk ditinggalkan.
Sampai sebuah kalimat dari dokter menghantam dunianya, jantungnya tak lagi mampu mengejar waktu. Kavi dipaksa berhenti berlari saat ia baru saja hendak memulai.
Menjelang usianya yang keenam belas, kematian bukan lagi hal yang menakutkan. Kavi sudah terlalu akrab dengan rasa sesak yang mencekik dan dinginnya ruang perawatan, hingga rasa takut itu perlahan luruh menjadi penerimaan. Namun, ada satu ketakutan yang tetap tinggal dan tak pernah bisa ia lepaskan, meninggalkan Sena.
Sebagai kembaran yang lahir dan tumbuh dalam satu detak yang sama, bagi Kavi, membayangkan napasnya berhenti jauh lebih mudah daripada membayangkan Sena harus bernapas sendirian tanpa dirinya di sampingnya.
Kavi mungkin sudah belajar cara berdamai dengan maut, namun ia tidak pernah tahu bagaimana cara meninggalkan separuh jiwanya tanpa rasa bersalah. Karena di akhir perjalanannya, luka yang paling perih bukanlah jantung yang membeku, melainkan membiarkan seseorang yang paling ia sayangi berjalan sendirian di dunia yang luas.
#Brothership bukan bxb.
Versi lain nya bisa di lihat melalui platform X @._keonholicc