" Andai saja, semua orang tau bagaimana rasanya menjadi aku, pasti tidak akan pernah mengatai sampai sesakit ini." lirihnya dalam hati, ia tak kuat menerima cacian tetapi mau bagaiman lagi ia hanya bisa pasrah.
Ia aku si bisu yang tak punya ayah dan ibu, hidupku di kelilingi orang dengki karna walaupun fisikku kurang memumpuni tapi otak ku sangat memadai.
Walaupun begitu aku tetap bersyukur masih memiliki seorang bude yang baik hati senantiasa membimbingku dan selalu menyayangiku.
WARNING!!!!!
^^ ea... maaf nih bila ada kesalahaan kata atau typo namanya juga manusia tempatnya salah dan dosa kalo mau yang sempurna jangan ke gw, intinya disini gw mau minta maaf bila ada tempat,judul, tokoh atau yang lainya gw minta maaf banget. GW disini bikin cerita murni karangan otak gw sendiri. GW GK JIPLAK KARYA ORANG LAIN APA LAGI NYURI MAAP KALO GW BISA SENDIRI KENAPA GK BERUSAHA, "IYA GK?.... "
DAN GW INGETIN, JANGAN JIPLAK KARYA ORANG GK BERKAH. ENAK KARYA SENDIRI, KARNA MERASA PUAS DENGAN HASIL WALAUPUN SE SUSAH ATAU SE MUDAH APAPUN ITU KALO MAU SEBAR BOLEH TAPI IZIN DULU BIAR GK DIKIRA NYUJI OK.......
INGET NJIPLAK ATAU NYURI ITU DOSA
gw cuma ingtin aja kola bisa gw ingtin alhamdulillah kalo gk bisa ya terserah gk usah baper gw apa adanya kok, kalaupun lu mau kritik, memberi saran dengan bahasa yang bagus, sopan PASTI gw trima kok ....
SEE YOU, { HAPPY READING <3 }
1810. 14-10-21
<+>
Reka_lexsandra
[BELUM DI REVISI]
So, typo masih berserakan~
About, dua pilihan yang sulit ditentukan.
---------------------------------------------------
"Gue nggak mau basa basi" Rehan memalingkan wajahnya. "Gini aja.. Gue kasih pilihan buat lo. Gue atau Rendy?"
"Emangnya salah gue apa sih sampe lo kayak gini?" Fix, gue nangis sekarang. Gue tau apa salah gue. Tapi sampe melampaui batas apakah kesalahan gue sampai sampai Rehan kayak gini ke gue?
"Lo tanya salah lo apa, apa nggak bisa intropeksi diri yah?!"
Mendengar kalimat itu keluar dari bibir Rehan, semua badan gue gemeteran. Entah karena nada suaranya yang meninggi ataupun auranya yang seolah ingin menerkam gue sebagai mangsanya.
Gue mencoba menetralkan semua badan gue yang gemeteran dan menyeka air mata yang udah nggak kehitung lagi jumlahnya. Diam sejenak. "Kalo lo mau jawaban dari gue, gue nggak bisa jawab. DAN GUE NGGAK BISA MILIH" Ucap gue dengan penuh penekanan.
®2019