Ephemeral | Lee Haechan

Ephemeral | Lee Haechan

  • WpView
    Membaca 15,820
  • WpVote
    Vote 965
  • WpPart
    Bab 33
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sab, Feb 22, 2025
"Kalau takdir Tuhan memang adil, seharusnya antara kebahagiaan dan kesedihan menjadi setara bukan?" Dalam cerita ini, ku selipkan beberapa dari banyaknya sekat jatuh dan lelahnya menjadi manusia yang cukup. Di mana yang gagal ku cicipi keberuntungan dalam pintu lain atas nama jalan liku takdir. Berjalan dari segala sisi kehidupan yang terus berotasi pada ribu bahkan jutaan manusia yang ada di tanah bumi. Tentang apa itu bangkit, apa itu bertahan, apa itu bersyukur, apa itu menerima diri, apa itu berdamai, apa itu saling merangkul dan apa itu tanda tanya besar yang sampai kapanpun tak akan pernah mampu ku tulis. Apalagi kalau bukan akhir bahagia sebuah kisah. Bukan pandai ku mengulik alur, bukan cerdas ku menanam karakteristik. Namun ingin ku merangkai kata dari benak yang kadang juga kusut berpikir bagaimana ini bisa selesai. Selamat menikmati. -Disclaimer ; • semua tokoh, lokasi, latar belakang, keyakinan dan insiden dalam cerita ini 100% hanyalah fiksi. • about 30% cw // harsh words ©RvHJRNY
Atribusi Creative Commons (CC)
#193
fanfition
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • ASING KARNA TAK LAGI BERSAMA
  • Serendipity
  • EGLANTINE ㅡ'Na Jaemin'
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • Love Or Whatnot (FIN)
  • Haruskah Aku Bertahan?
  • My Ex - My Next
  • Bumi & Takdirnya
  •  ANATHA
  • 𝐒𝐞𝐫𝐩𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐀𝐬𝐭𝐚𝐦𝐚𝐥𝐚│〚𝐓𝐀𝐌𝐀𝐓〛

Aku takkan menyalahkan takdir bila memang harus berpisah, Aku hanya membenci hari hari setelahnya. Berharap menemukan senyuman itu di ladang yang tandus, kering dan sunyi. Seperti itulah gambaran perasaan seorang ayah, Disaat hakim memutuskan untuk mensetujui perceraian. KARMA! Jika memang karma,aku baru saja memulai kisah. Bukankah tuhan membenci sebuah perceraian? Lalu apa ini sebuah takdir untukku? Optimisku masih positif, mungkin ini jalan yang terbaik untuk kata berpisah. Rasa optimisku menuntunku untuk bertemu pilihan tuhan, dengan hadirnya dia yang mampu mengubur masalaluku tapi tidak untuk menemani hari tuaku. Benci tanpa kata iklas, sudah merasuk dalam hati. Mengambil alih susunan memori kenangan agar tak terlintas dalam benak. ~Seseorang tidak Terlahir untuk Jadi Pemimpin Namun Keadaan yang Memilihnya~ ~Ketika Cinta Menjadi Nyata,Dia akan Menemukan Jalannya Sendiri~

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan