Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.
Rumi & Juni

Rumi & Juni

  • WpView
    Reads 1,725
  • WpVote
    Votes 119
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Apr 18, 2023
Habuk dan kepingan kayu yang bertaburan penuh memenuhi lantai bengkel dibiar bersepah. Ruangan yang bergema dengan Roy Clark- Yesterday, When I Was Young dinikmati dengan secawan Nuri Toplar yang baru dituang dari Cezve. Anak mata kelabu itu tajam merenung seni luakan yang baru siap dibuat. Arca jemari runcing perempuan yang menggunakan bongkah Cengal itu masih belum digosok dengan kertas pasir. Seketika, fokusnya dialih ke arah pintu utama apabila telinga menangkap ketukan daripada luar. "Kenapa tak angkat call? Penat aku menapaklah macam ni." Sembur Wen melulu sambil menyeka peluh. "Sorry, phone silent." Bibir melarik sengih. "Haaa tulah kau." Dia duduk di Chesterfield lusuh. Mengah. "Jom diving. Petang ni. Free tak?" Jam dinding di kerling seketika. Kemudian pandangannya dikitarkan ke sekeliling bengkel. Berkira kira. "Sekejap je. Tapak semaian. Kutip sampah." Tambah lelaki itu lagi. Dia angguk perlahan. "Bolehlah." Juni tolak troli spanar dengan kaki. Dia melungsur keluar dari baring bawah kereta sambil mata menghala tak lepas pada dua sosok yang melintas jalan depan bengkelnya. "Itu Rumi. Owner bengkel kayu sebelah kita ni." Mona bersuara dari belakang. "Ohh." Perempuan itu berlalu ke rak minyak pelincir. "Aku perasan, kau selalu pandang dia. Apehal?" Kompressor aircond yang sudah ditanggalkan di capai sebelum mendekat ke Wira yang masih tersadai. "Mana ada lah." Penyukat atas meja diambil sebelum berlalu ke Axia. Mona senyum mengejek. "Yelah tu." Juni menarik nafas dalam. Sesaat mata dipejam sebelum nafas tadi hembus perlahan. Dia berdehem sebelum kembali fokus menyambung kerja.
All Rights Reserved
#57
random
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Stuck In Memories
  • AKHTAR [C]
  • 7. Forever I'm For Yours
  • [COMPLETED] Acis Suka Ona Laa!
  • [C] Benci Vs Cinta
  • A² [C]
  • MY 'RUDE' WIFE
  • Nyctophile 🌬

Seketika ingatanku terjebak pada harapan bodohnya. Ketika kami duduk berdampingan pada malam yang kelam benderang : "Nanti kalo udah jadi arsitek beneran, gue bakal rancang rumah mini gue disini. Rumah beratap rumbia yang ada cerobong asapnya. Lantai marmer dan dinding dilapisi cat pastel anti air plus taman baca berbentuk daun teh. Klop banget". Peter menyampaikan impiannya itu dengan gerakan tangan, seolah-olah ia benar-benar merancangnya. Langsung saja aku menepuk lembut pipi kanannya. "Itu proyek gue, ya maksudnya rancangan proyek gue kalau kita udah nikah nanti" Ujarnya lagi membetulkan "What a strange project" Responku singkat. Kami tertawa berbarengan. Sejenak kemudian kami sama-sama diam. Di malam yang dingin dan pemandangan yang menakjubkan itu, aku bersyukur beberapa kali diberi kesempatan untuk bisa bersamanya dan berharap esok akan tetap seperti ini. Bahkan lebih dari sekedar malam ini, esok dan seterusnya pun akan menjadi milikku dan dia. Entah dipikirannya sama denganku atau tidak, seperti yang ia katakan, spesial itu adalah ketika kita bersama orang yang kita sayangi dalam kondisi sesulit apa pun. Itu tepatnya. Dan, yang sekarang aku pinta hanya ingin dia hadir disini. Merencanakan mimpi-mimpi bodohnya lagi. Tapi, apa masih bisa?

More details
WpActionLinkContent Guidelines