Antal Hana

Antal Hana

  • WpView
    Reads 553
  • WpVote
    Votes 43
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Sep 12, 2022
Dikeluarkannya pesawat kertas yang disimpan dalam tas, dibuka dan diperhatikan sekali lagi. "Apa kabar kamu? Kenapa keberadaanmu membuatku ambigu, kamu tadi ada di sana juga, kan? Kenapa tidak menampakkan diri? Jujur, terkadang hati ini ingin kembali, tetapi mengingat drama kehidupan yang kita cipta berimbas sampai detik ini, sungguh membuatku makin merutuki diri. Hadirmu laksana melodi. Menenangkan, tetapi setelah pergi membuat jiwa gamang." Setelah puas bermonolog dengan sebuah kertas, ia menyambar pigura yang terpampang di nakas, menampilkan sebuah foto akad dirinya dengan sang suami. "Hubby, apakah perjuanganmu juga hanya sampai di sini? Janjimu untuk selalu ada dan selalu memprioritaskan istri, kenapa justru pergi tanpa memberitahu alasan seperti ini?" Nasya mendekap pigura itu, dadanya seolah-olah terimpit, ingin menangis, tetapi air matanya habis. Ingin marah, tetapi ia lelah. Takdir seperti apa yang menanti Nasya pasca pertemuannya dengan Azka? Faktanya Arkan pun pergi di hari yang sama. Temukan jawabannya hanya di Antal Hana, sekuel Gejolak Hati Kafka.
All Rights Reserved
#109
cobaan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Renjana : Arutala Dirgantara [Completed]
  • Narasi patah hati
  • Angel To Raya (END)
  • Puing luka
  • Bukan wanita biasa (TAMAT)
  • I'M - Hanna Darmiar (Perjalanan Mencintai Takdir)
  • Perempuan Dengan Segala Masalahnya (End)
  • KEKASIH KECILKU [TAHAP REVISI]
  • Nikah Dulu, Jatuh Cinta Kemudian
  • Sakha Sania (End)

TERSEDIA JUGA DI GOODNOVEL DENGAN JUDUL MUNAJAT PERAWAN TUA "Untuk apa kamu cemas? Apa putrimu terlibat masalah?,"tanyaku. "Apa aku harus mengatakan dengan jelas? Apa menurutmu sekalipun kamu tidak peduli dengan sekitar tidak akan ada yang peduli denganmu?,"tanya Dirga membuatku mengambil tangannya. "Terima kasih sudah membantu. Aku berhutang budi padamu,"ucapku enggan berkilah. "Jangan mengatakan hutang budi, jika kamu tidak mau membayar,"ucap Dirga. "Kalau begitu katakan. Apa yang bisa ku lakukan untuk membayarnya?,"tanyaku. "Menikahlah dengan ku,"ucap Dirga membuatku melepaskan tangannya. "Apa kamu sudah gila? Kamu pria yang sudah menikah, Dirga. Kamu terlalu jauh,"ucapku memalingkan wajah. "Tapi aku duda,"skak Dirga membuat wajahku pucat seketika. -&- Setiap knot kecepatan melaju menembus Cakrawala, sejauh itu cinta yang ku tinggalkan di setiap jejak awan. Saat roda-roda pesawat tidak lagi menapak di ujung landasan, tersisa lah keikhlasan menerima semua takdir. Berpangku pada bait ayat Allah yang terus terlantun merdu. Tingginya langit yang bisa ku tembus tidak membuatku sedekat sujud di penghujung sajadah. Jika serdadu hanya bisa mematahkan senapan di ujung pertempuran dan cendekiawan yang saling beradu argumen di atas meja mematahkan kebingungan. Lantas apakah tidak mungkin meminta Pencipta ku mematahkan takdir yang menjerat? Update seminggu 2 kali😁

More details
WpActionLinkContent Guidelines