Subhanallah Ustadz

Subhanallah Ustadz

  • WpView
    Reads 137
  • WpVote
    Votes 49
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Mar 14, 2023
"perempuan itu madrasah pertama bagi sang anak" ucap Habib. Syaqeela menatapnya dengan senyuman manis,menanti kelanjutan kata² sang ustadz. "jadi,kamu sebagai perempuan harus bisa menjadi madrasah yang terbaik bagi anak mu kelak,Qeel.." lanjut Habib. Mata Syaqeela berbinar mendengar penuturan sang Ustadz. Ia selalu suka ketika ia private pelajaran nahwu bersama Ustadz Habib,banyak sekali motivasi² dan juga penuturan yang terkadang membuatnya takjub. "subhanallah, ustadz. Syukron ilmu nya. Semoga ilmu yang ustadz haturkan ke saya bermanfaat" Tutur Syaqeela dengan senyum masih mengembang. Syaqeela Shintia Nafisah. perempuan unik yang suka pelajaran nahwu shorof. Apalagi,ketika yang mengajarinya guru private favoritnya, Ahmad Habiburohman. bagaimanakah kelanjutan kisah cinta Syaqeela? akankah indah bagai pelangi di akhir hujan,atau kah akan menjadi sebaliknya? ~ikuti terus kisah Syaqeela dan ustadz Habib di novel Subhanallah,ustadz. ya! :D
All Rights Reserved
#44
ustadz
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DI ANTARA DUA KEHIDUPAN (END)
  • THE SECRET OF LOVE (END) ✔️
  • Rafiq Aljinah [TELAH TERBIT]
  • Assalamualaikum Pak Ustadz
  • Pelangi Tak Selalu Muncul Setelah Hujan. [TAMAT]
  • Ku Pilih Jalur Langit
  • Assalammualaikum, Ustadz [END]
  • PERJUANGAN DOA[END]
  • Takdir Hijrah dan Sepertiga Malam (On Going)
  • Takdir Sang Cahaya

"Anak hebat Ayah, kalau sudah besar mau jadi apa?" Suara itu masih terngiang di kepala Syela, lembut dan penuh kasih sayang. Malam itu, ia masih berusia enam tahun, duduk di pangkuan ayahnya yang selalu wangi dengan aroma buku dan kopi. "Dokter, Ayah. Supaya Syela bisa menyembuhkan orang-orang dan membantu banyak orang," jawabnya dengan penuh semangat. Ayahnya tertawa kecil, mengusap kepalanya dengan penuh kebanggaan. "Syela janji ya, suatu hari nanti akan jadi dokter hebat? Ayah janji akan selalu menuntun langkah Syela sampai impian itu terwujud." "Iya, Ayah! Syela janji! Terima kasih, Ayah. Syela sayang Ayah, sampai kapanpun." Janji itu terdengar begitu nyata, seolah hanya terjadi kemarin. Tapi kini, bertahun-tahun setelahnya, Syela hanya bisa menatap kosong ke langit-langit kamar. Ayah tidak lagi di sini. Janji itu, yang dulu terdengar seperti kepastian, kini hanya tinggal kenangan yang menggantung di dara. Syela menarik napas panjang, meremas ujung selimutnya. Sudah bertahun-tahun sejak ia kehilangan sosok yang paling ia cintai. Tapi luka itu tak pernah benar-benar sembuh. "Mana janji Ayah yang akan menuntun langkah Syela?" baca selengkap nya ya! @ssabrinena @syelas.story

More details
WpActionLinkContent Guidelines