We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
WISH YOU WERE HERE

WISH YOU WERE HERE

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 18, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Dia pernah berkata, Bahagia itu tanggung jawab diri sendiri, diri sendiri yang menyatakan ingin bahagia atau tidak, ingin berlarut pada kesedihan atau tidak, ingin melupakan atau tidak. itu hanya pilihan hidup. dan itu tergantung diri sendiri. Dan dia tau itu bukanlah pilihan yang mudah. Dia juga pernah berkata, melupakan itu tidak sulit, yang sulit hanya menerima keadaan bahwa yang harus dilupakan tidak seharusnya dilupakan. Dia berkata ingin aku bahagia disaat dia tiba-tiba meminta di benci dan di lupakan. lalu apa yang harus aku pilih ? aku harus memilih bahagia disaat semua kenangan yang kita tulis hanya menjadi angan ? atau aku harus tetap memilih bahagia disaat aku tak tahu dimana dan bagaimana keadaaan nya ? apa aku tetap harus bahagia disaat aku tak tau dia bahagia atau tidak ? that's a bullshit.
All Rights Reserved
#384
bertahan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hopeless
  • You're Here, But Not For Me
  • AMORAIGER 2 [COMPLETED]
  • Ketika Cinta Tak Harus Memiliki
  • Love Is Scratched Wound || Cinta Tergores Luka
  • Neyralgis||On Going
  • Fight For You
  • SO PRECIOUS (PART COMPLETE)
  • Full Of Scratches
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines