ABOUT US • Bright Vachirawit

ABOUT US • Bright Vachirawit

  • WpView
    Reads 647
  • WpVote
    Votes 122
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadComplete Wed, Jul 1, 2026
Sequel dari cerita Langit Artharendra. Buat yang penasaran peran perjodohan Navya di cerita Langit Artharendra, baca ini ya^^ ───────ABOUT US─────── ❝ Semua orang punya masa lalu, dan nggak semua orang bisa cerita tentang masa lalunya. Karena nggak semua masa lalu itu indah untuk di ceritain. ❞ Tiba-tiba di jodohin oleh kedua orang tuanya saat Navya masih berstatus menjadi kekasih dari Langit? Dengan pasrah Navya menerima perjodohan dari kedua orang tuanya, kemudian menikah dengan anak dari sahabat orang tuanya, Leovandra Nathan Damares. Dan menerima apapun konsekuensinya jika ia harus melupakan Langit. ─────ABOUT US───── ⚠️Bijaklah dalam membaca! Cerita ini murni hasil dari pikiran saya sendiri. Maaf jika ada kesamaan tokoh, tempat, dan kejadian lainnya. ⚠️ 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐝𝐢𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐥𝐢𝐬 𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Nala dan Mas Juragan
  • The Last Yes!
  • Chasing Sanara
  • Almost Married (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • De Andere Weg (END)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines