We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Pak Dosen
  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Aug 15, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
"Kalau jalan pake mata", jawabnya dengan nada dingin "Maaf om saya tidak sengaja", jawabku meminta maaf. (Dih makhluk apaan nih kayak gunung es, sambil membatin) Hai...nama gue Delvia Putri Wijaya,gue berkuliah di Universitas Bina Nusantara. Awalnya kehidupan gue dikampus biasa saja, tapi semenjak adanya dosen baru itu, hidup gue mulai berasa seperti diombang-ambing oleh si dosen gila😁. Tapi siapa sangka kalau orang tua gue menjodohkan anaknya yang cantik ini dengan dosen gila itu, omayygatt apa kata dunia kalau gue nikah dengan ntu dosen..bisa-bisa gue ikutan gila Dan kalian pasti tau ini bukan zaman siti nurbaya, emang gue nggak laku apa sampe dijodohin😠 Bagaimana kehidupan Delvia dan dosen baru itu?? Yuk dibaca, dan jangan lupa tinggal kan jejak. Capek loh author mikir dan nulis tapi tetap semangat🤗 Maaf kalau ada kesamaan dalam cerita itu semua murni dari pikiran author, Terimakasih By: Delia💕
All Rights Reserved
#11
deri
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 1, Bunga di Taman Hati
  • Dia (Omku) Suamiku (COMPLETED) SEBAGIAN CHAPTERS DIUNPUBLISH YA
  • IGNITES (END)
  • SCRIPTSHIT (TAMAT)
  • My Sweet Polar Husband [End]
  • Neyralgis||On Going
  • My Dear Husband (COMPLETED)
  • TAKDIR ALYA
  • INDESCRIBABLE
  • Life With My Lecturer [republished ]

"Fabian..." Mami menatapku. "Yakin, Ian mau kalau dijodohin?" "Kalau semua ikhlas, aku yakin, Mi." Aku terus menatap mata ibuku. "Sayang, kamu sudah dijodohkan sejak sebelum kamu lahir." Aku tersentak. Tergugu tanpa kata. Tanpa bisa kucegah, aku memasang wajah bodoh. "Cerita singkatnya, jodoh Ian ini cucu teman Opa." "Gimana bisa?" Aku masih memasang wajah bodoh itu. "Waktu Opa dan temannya Long March Divisi Siliwangi, mereka berdua terpisah dari rombongan, lalu kena ranjau darat. Pas masa kritis kayak gitu, mereka sepakat mau ngejodohin anak-anaknya atau cucu-cucunya." Mami membuka tasnya. Mengambil selembar amplop lalu menyodorkan amplop tersebut ke arahku. "Ini foto calonnya." "Aku setuju, Mi." Aku tetap menatap wajah Mami. "Ian nggak lihat dulu anaknya?" "Aku yakin sama pilihan Mami. Apalagi ini kesepakatan semua." "Ian lihat dulu deh..." Meski merasa tak butuh melihat wajah yang tersembunyi di balik itu, tetap saja akhirnya kubuka amplop tersebut. Haahhh??? "Mami...??" Kupandang wajah Mami dengan wajah bodohku yang terbaik, yang terbodoh. "Nggak salah nih, Mi...?" "Kenapa? Ian berubah pikiran?" "Masih ABG beginiii...!!!" "Oh... itu foto dia masih kelas X." "Sekarang?" "Balik foto itu," perintah Mami tegas. Perlahan kubalik foto itu. Kembali aku terkesiap. "Mami...?" Kupasang wajah bodohku sekali lagi. "Ini beneran?" "Ya benar lah." "Ini mahasiswa aku, Mi.... Sekarang tingkat satu. Tahun depan pasti masuk kelas aku." "Sepertinya begitu," jawab Mami maklum. "Ada masalah dengan itu?" Aku tergugu. Namun aku merasa harus bertanya. "Mi, dia mau sama aku? Dia mau dijodohin sama dosennya?" "Nah, pertanyaan bagus." Mami menepuk bahuku. "Dia sama sekali tidak tahu soal perjodohan ini. Jadi sekarang bola di tangan Ian. Kamu mau bawa ke mana bolanya. Terserah." Haaahhh??? ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines