Berhenti Menggapaimu

Berhenti Menggapaimu

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 24, 2021
"Kamu tau? kisah Nabi Yusuf a.s dan Zulaikha istrinya?" "Mana mungkin seorang muslim tidak tau kisah itu Nad!" "Dicerita itu Yusuf menolak Zulaikha kan, bagaimana jika saat itu tidak menolak?" "Maka terjadilah zina, dan Yusuf tidak akan menjadi seorang nabi." "Hmm, aku baru sadar, ternyata ada juga wanita seagresif Zulaikha ya." "Banyak malahan, makanya ujian laki-laki yang terberat itu wanita." "Hahaha, tapi aku kagum pada Zulaikha yang setelah itu berbalik mengejar cinta Allah. Aku, jadi ingin seperti Zulaikha." Ucapan adalah do'a. sudah seringkali bukan pepatah ini kita dengar? dan kini ucapan Nadira menjadi do'a yang terkabul. Menjadi Zulaikha dilain zaman, apakah Zulaikha yang kini menemukan sosok Yusufnya? atau malah sebaliknya?
All Rights Reserved
#980
hati
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • Izinkan sekali saja
  • Kasih Sayang Muslimah
  • JAUH DIMATA DEKAT DIDOA
  • ELSHANUM AZ-ZAHRA (COMPLETE)
  • She Is not Cleopatra
  • The Wrong Bride, The Right Love
  • AKSARA Garis Pertemuan

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines