Stars In The Past

Stars In The Past

  • WpView
    LECTURES 325
  • WpVote
    Votes 197
  • WpPart
    Chapitres 9
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication mer., janv. 5, 2022
Bian, Boleh aku ingatkan tentang kita? Waktu pertama kali kita bertemu? Waktu dimana pertama kali kita memulai cerita? Waktu dimana ada sekat diantara kita? Waktu dimana takdir dengan egoisnya menarik kamu? Lalu waktu dimana semulanya kita bersama. Kamu boleh membaca secercik kisah manis kita, akan kutuliskan untukmu ☆kania -------- Kania mengenal lelaki dimasa lampau. Baju merah, celana biru, kulit putih, rambut hitam pekat Mata sayu tanpa lengkungan senyuman. Abian. Lelaki tampan dengan seribu satu hal yang tidak dimengerti Kania, sampai detik pertama kali saat bertemu bahkan sampai gelap mempekat, Kania masih memegang sepucuk surat. Kania, saat masanya datang di usia belia untuk menghadapi tajamnya dunia, dia datang. Selalu datang. Tapi satu hal, kesalahan ini terlalu berat dan semua ini mengharapkan ampunanmu.
Tous Droits Réservés
#143
kania
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Elegi Rasa : Pergi
  • TANTAN ; with you [ ON GOING ]
  • ALANAALANKA. [ ON GOING]
  • INI CINTA BUKAN BENCI
  • DAVARA
  • CHAGRIN
  • Langit Artharendra
  • RAJAWALI
  • You Are My Destiny
  • A Twist Of Fate

Kadang menjadi begitu terlambat menyadari sesuatu akan membekaskan rasa sakit yang tak lekang oleh waktu. Saat cerita yang kelewat singkat dilalui menghantarkan pada sakit yang menghantui. Safir sudah merasakannya. Dua kali dalam hidup ia seperti dipermainkan rasa. Nila yang tak mau melihat. Dan Bianca yang pergi pada sesuatu yang tak terlihat. Ketika sepi melanda. Bukannya pada dunia yang luas, hanya pada dunianya sendiri yang tiba-tiba runtuh. Safir merasa begitu buruk di mata Bianca. Merasa begitu lelah di hadapan Nila. Dan malam itu, harusnya ia berusaha lebih keras. Saat si gadis berkata, "Aku pamit pulang, ya." Harusnya Safir membujuk lebih tegas. "Biar aku yang antar." Kenyataannya, Safir menjadi begitu terlambat. Saat rasa itu mulai tertambat. Hatinya justru sakit tanpa ada yang membebat.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu