The Divinity Act 2: STARGAZE

The Divinity Act 2: STARGAZE

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 27, 2024
WpInfo
Fiction
Fantasy
Setelah terbebas dari hukuman mati yang dijatuhi kepadanya, kini Alioth berkelana seorang diri di alam semesta yang luas. Dengan hati penuh harap, ia memutuskan untuk kembali ke planet Bumi, tempat ia berharap dapat bertemu kembali dengan Monty, sahabat lamanya yang pernah membantunya melewati masa-masa sulit. Namun, setibanya di Bumi, Alioth segera menyadari bahwa dunia yang dulu ia tinggalkan telah mengalami perubahan besar. Planet yang pernah menjadi rumah baginya kini tampak sangat berbeda. Alioth menghadapi kenyataan pahit bahwa temannya, Monty, telah meninggal puluhan tahun yang lalu. Kehilangan tersebut membuat Alioth merasa amat sedih, terutama karena ia sangat berharap bisa berjumpa kembali dengan sosok yang pernah menjadi penopang dan sahabatnya. Dalam perjalanannya di bumi, Alioth menemukan teman-teman baru. Teman-teman yang Ia harapkan bisa membebaskannya dari belenggu Raja Asmodeus dan membebaskan teman-temannya yang masih berada di Tartarus.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DESCENDANTS OF SEVENTEEN (a story can't never tell)
  • EXO from EXO Planet (COMPELETE)
  • The Sky People (TAMAT)
  • The Longly
  • Tetra Self
  • Creatures Mythology: The Rise of Thunder Bird (COMPLETED)
  • Planet itu bernama Bumi  | Part 1: Tentang Farbe
  • HYDIE EARTH : BEYOND TIME AND SHADOWS

Tujuh puluh tahun yang lalu, dunia seperti yang dikenal manusia hancur seketika. Sebuah meteorit raksasa menghantam bumi pada tahun 2017, menelan lebih dari setengah populasi manusia dalam kobaran api dan kehancuran. Namun, dari reruntuhan itu, lahir sesuatu yang tak terduga-tujuh batu kristal sakti yang menyimpan kekuatan di luar nalar manusia. Bersamaan dengan munculnya batu-batu misterius itu, dunia yang selama ini tersembunyi mulai memperlihatkan dirinya. Ras-ras lain seperti Ligeria, Arzi, dan Farman, yang selama ini bersembunyi di balik realitas manusia, akhirnya muncul ke permukaan. Namun, pertemuan ini bukannya membawa kedamaian, melainkan awal dari perang yang lebih besar. Farman, ras yang paling ambisius, mulai menaklukkan dunia dengan cara kejam, memperbudak ras lain, dan merebut wilayah yang bukan milik mereka. Di tengah peperangan yang berkecamuk, Raja William Thinkler dari kaum Arzi berusaha menjadi perisai terakhir bagi perdamaian. Namun, takdir berkata lain-ia gugur di medan perang, meninggalkan sumpah yang akan menggema sepanjang zaman. "Hari ini bukanlah akhir, hanya bayangan dari fajar yang belum nyata..." "Saat kelam merangkak mundur, tertimpa cahaya senja yang enggan padam." "Dimana Pantang menyerah masih akan berdiri, di atas ragawi dosa dosa." "Sebilah besi akan terangkat tanpa amarah, dan dari gemuruh pertempuran, suara kedamaian pun terlahirkan." Sebuah janji tertinggal di antara kehancuran, sebuah harapan yang menunggu untuk ditepati. Perang ini bukanlah akhir, melainkan awal dari kisah yang lebih besar-sebuah perjalanan yang akan menentukan nasib dunia yang baru.

More details
WpActionLinkContent Guidelines