Hujan Bulan Oktober

Hujan Bulan Oktober

  • WpView
    Reads 52
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 2, 2022
Hujan, kadang memberikan kesenangan namun tak jarang memberikan duka bagi masing-masing orang. Bahkan, terkadang pula ia hanyalah diberikan sumpah serapah oleh para manusia tanpa mengetahui letak kesalahannya di mana. Padahal kan kelalaian manusia itu sendiri yang menjadi penyebabnya. Inilah kisah yang di mana hujan akan mendapatkan peran indahnya. Mempertemukan dua hati yang saling asing, namun akan ada ikatan sakral yang menjadi akhir kisah mereka di sini. Atau mungkin sebuah akhir tragis? Nantikan update nya setiap Author nya mood buat ngedit. Sekian terima gaji.... .......................***........................ Kalau ada kesamaan nama tokoh, tempat, tanggal, lahir, makan, dan lain sebagainya. Mohon dimaklumi. Soalnya Author nya ini juga manusia yak.... ∆ Murni pikiran Author nya sendiri
Creative Commons (CC) Attribution
#11
wattpad22
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kemana Arah Pulang?
  • Hujan dalam Pandanganku
  • The Rain
  • She's In The Rain; Jung Eunha
  • Hujan Tak Bertuan (TAMAT)
  • Aku Dan Dimensi Hujan

Insiden yang merenggut kedua orang tua mereka telah mengubah segalanya. Rumah yang dulu penuh dengan tawa dan kebahagiaan kini terasa hampa dan penuh kesedihan. Setiap sudut rumah yang mereka tinggali kini penuh dengan kenangan akan masa lalu, dan rasa kehilangan yang tak terhingga. Lima bersaudara itu terjebak dalam arungan luka tak kasat mata. Terkunci dalam labirin ketakutan yang tanpa sadar telah mengikis tali persaudaraan mereka. Maraga, si sulung yang harus merelakan masa kuliahnya dan beralih menjadi tulang punggung keluarga. Reshaya, sang kakak kedua yang enggan berbagi duka. Hendara, si anak tengah yang selalu menangis di sepertiga malam hanya karena merindukan Bunda. Dan si kembar, Juandika dan Anandika yang sama-sama memendam sesak tak berkesudahan. "Aku kangen rumah yang dulu." "Kita berdamai sama-sama ya? Jangan ada lagi yang di pendam." Written by Kala Rune Desember, 2024

More details
WpActionLinkContent Guidelines